AR Mecer & Jalan Keselamatan Kalimantan

AR Mecer & Jalan Keselamatan Kalimantan

Dalam acara puncak perayaan Dies Natalis ke-55 dan Lustrum XI Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 17 Desember 2010 diserahkan Universitas Sanata Dharma Award kepada Drs. Anselmus Robertus Mecer sebagai penggerak credit union  di Indonesia. Inilah pidato asli sekitar 60 menit dari AR. Mecer yang memukau 400 orang tamu undangan. Sesekali pidato terhenti karena mendapat aplaus dari hadirin. Berikut isi pidato AR Mecer selengkapnya.

Saya mungkin tidak layak menerima penghargaan yang diberikan ini karena apa yang kami lakukan adalah sesuatu yang sangat sederhana, hal-hal yang sepele-sepele saja. Apalagi kami tidak tahu teori ini itu, bagi kami yang penting apa yang dapat dikerjakan, dikerjakan dulu.

Apa yang kami lakukan berawal dari keprihatinan terhadap diri sendiri. Orang tua tinggal jauh di pedalaman Kalimantan Barat. Sejak SD, karena tidak ada sekolah di kampung, maka saya harus bersekolah ke kampung lain. Ini ada kaitannya dengan Gereja Katolik karena merekalah yang membuka sekolah di kampung itu. Sekolah itu gratis, tahun 1950-an. SMP pindah ke kota kabupaten Ketapang sampai SMA. Lalu melanjutkan pendidikan guru sampai jenjang sarjana muda. Setamat kuliah saya mengajar di sebuah sekolah Katolik di Pontianak. Oleh perguruan tinggi negeri yang ada di Kalbar (Universitas Tanjungpura-red.) saya bebeberapa kali dibujuk, diminta untuk mengajar di sana. Akhirnya saya setuju dengan syarat saya bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana penuh (S1) terlebih dahulu. Akhirnya kami sepekat.

Nah, persoalan kemiskinan ini sederhana kami melihatnya. Miskin itu sederhananya tidak punya uang. Padahal uang itu ternyata aspeknya luas, apa saja bisa jadi uang. Rumput, tanah, batu dan banyak hal bisa jadi uang. Dapat uang itu mudah. Nah persoalannya mengapa kita tidak mempunyai uang. Setelah saya renungkan, ternyata untuk mendapatkan uang itu perlu alat.

Saya pernah membayangkan di pinggir laut yang ikannya banyak sekali. Lalu saya bilang teman, coba kamu berenang ke situ dan tangkap ikan-ikannya. Dia tertawa, “Anda ini gila kah? itu perlu alat untuk menangkapnya,”jawabnya. Uang itu sama, perlu alat untuk menangkapnya. Dari situ kami terinspirasi, boleh jadi CU yang baru kami kenal saat itu adalah alat untuk menangkap uang itu. Bagi kami CU itu adalah alat, bukan lagi hitung-hitungan keuangan seperti di perbankan. CU adalah alat. Sebab bagi kami CU adalah alat untuk memiliki uang tadi. Jika uang sudah dimiliki banyak hal lain bisa dilakukan karena dengan uang itu pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, khususnya sandang pangan dan papan mudah dipenuhi.

Nah kemudian kami terpikir pada kehidupan petani. Saya merenung, mengapa sekarang banyak uang tapi orang masih kelaparan. Padahal jaman bapak saya dulu, waktu saya masih kecil tahun 1950-an, mereka tidak ada uang tapi makan cukup. Tidak ada istilah lapar. Walaupun sederhana kami punya rumah. Kalau sakit bisa berobat karena biasanya berobat pakai tanaman yang ada di hutan. Tiap tahun orang kampung pesta.

Setelah coba kami renungkan, apa sebenarnya yang mereka lakukan sehingga segala kebutuhan hidup jaman orang tua saya dulu bisa terpenuhi padahal mereka tidak punya uang. Ternyata ada empat hal yang diperjuangkan para petani yang tidak boleh tidak harus dipenuhi. Sebab jika tidak, maka hidup, nyawa akan terancam.

Yang pertama adalah makan minum (konsumsi). Jika tidak ada makanan-minuman nyawa akan terancam. Mereka berjuang mencari makan minum untuk bertahan hidup. Makan minum ini sesuatu yang penting, terus menerus dan tidak ada alasan, harus ada makan minum.

Yang kedua yang penting itu adalah benih. Penyediaan benih itu mutlak harus dilakukan, tidak peduli apakah panen dalam tahun itu gagal atau berhasil, benih harus pertama-tama disisihkan dan dipilih dari hasil panen yang terbaik untuk ditanam. Jika diimplementasikan dalam bentuk uang artinya seberapa besar-kecil pun pendapatan, kita harus menabung atau berinvestasi. Menabung jangan dari karena kelebihan uang, tapi perjuangan untuk masa depan.

Yang ketiga, supaya masyarakat di kampung tetap hidup senang dan damai, adalah saling peduli, kerja sama, solidaritas. Kami orang Dayak yang hidup di rumah panjang tidak ada cerita orang di bilik lain makan sedangkan di bilik lain tidak makan. Tidak, kami solider, jika ada rejeki, dapat buruan dibagi, kita nikmati bersama. Dulu sih, tapi nilainya masih bisa dipertahankan. Setelah direnungkan, ternyata aspek social, kebersamaan itu merupakan kebutuhan, sama seperti makan minum dan benih itu.

Yang keempat, biasanya sebelum melakukan kegiatan atau ritual, petani/ masyarakat di kampung selalu mengucapkan rasa syukur, selalu ada ritual-ritual kepada Yang Kuasa. Kalau panen baru, padi pertama yang diambil dipersembahkan kepada Yang Kuasa dulu, bukan langsung dimakan.

Setelah melalui refleksi dan permenungan panjang, ternyata keempat hal itu tidak tidak diperhatikan lagi oleh petani. Kepedulian tidak diperhatikan lagi, bersyukur itu sudah jarang dilakukan. Kebetulan saya Katolik, di kampung saya umatnya sekitar dua ribu tetapi kalau sembayang hari minggu ada puluhan orang saja. Itulah sekilas gambaran tentang rendahnya syukur masyarakat kita.

Empat hal seharusnya selalu diperjuangkan dan dilakukan secara bersamaan. Kalau sekarang yang dilakukan hanya satu hal saja, yakni makan minum (konsumtif). Empat hal itu kemudian kami racik dan disederhakan dijadikan uang. Uang itu memerlukan pengelolaan, manajemen tersendiri. Kami membuat produk CU itu menjadi empat pokok. Yakni produk konsumsi, produk sosial, produk benih dan religious/ritual.

Benih itu harus menghasilkan maksimal. Sebab jika padi satu biji ditanam, tumbuh dan berbuah hanya satu biji saja itu artinya benih itu tidak baik. Artinya produk benih itu harus dirancang berkembang. Ukuran uang berkembang adalah lima belas persen. Pengalaman kami bisa mengembangkan uang ini lima belas persen pertahun dengan asumsi inflasi dibawah 10 persen jadi uang berkembang. Dengan 15% pertahun itu maka setiap lima tahun uang yang kita tabung menjadi dua kali lipat atau 100 persen. Dengan Rp.2.000 perhari terus dikembangkan maka dalam 40 tahun akan menjadi Rp 1 miliar.

Gunakan Rumus 72 untuk mengembangkan uang kita dalam produk yang dikategorikan sebagai benih. Rumus 72 untuk menunjukan kelipatan uang yang dikembangkan dalam jangka waktu tertentu dengan rumus  p = 72:n; p = prosentase, n = jangka waktu (Burke Hedges:Copycat Marketing 101). Misalnya  kita perlu menggandakan uang 2x lipat (100%) dalam 6(enam) tahun. Berapa prosen bunga yang diperlukan pertahun agar targetnya tercapai? Dengan menggunakan rumus 72, yaitu : P = 72 : n (dalam hal ini n = 6). Jadi  p = 72 : 6 = 12, berarti bunga yang diperlukan untuk pengembangan tersebut 12% pertahun.

Nah yang produk makan minum, seperti halnya kebutuhan makan minum kita sehari-hari; tidak boleh lebih, tidak boleh kurang, harus cukup. Artinya tidak perlu dengan bunga yang tinggi. Katakanlah uang itu hanya dititipkan di CU, seperti di bank, yang setiap saat bisa diambil. Jadi kalau bank 2 persen, yang produk itu 2 persen juga.

Produk sosial merupakan salah satu jenis produk yang sifatnya sosial karitatif (amal), tetapi sesungguhnya apa yang diamalkan/disumbangkan pada akhirnya membantu dirinya sendiri. Di samping uang tabungan wajib, setiap tahun kami di CU juga wajib memberikan sumbangan Rp 50 ribu tiap orang. Dan itu hanya diberikan kepada orang yang meninggal. Kalau orang meninggal dibantu (disantuni) Rp5 juta. Secara hitung-hitungan ekonomi cara seperti ini tidak ada. Dengan pengalaman kami praktek ini tidak merugikan. Karena untuk menyumbang Rp. 5 juta itu perlu waktu 100 tahun (100 x Rp.50.000). Orang/ anggota CU tidak ada yang umurnya 100 tahun. Orang yang baru masuk seminggu dan telah membayar sumbangan Rp. 50 ribu itu lalau kemudian misalnya meninggal, tetap mendapat Rp 5 juta. Ini luar biasa, tidak akan ditemui di tempat lain.

Pertanyaannya, bagaimana bisa cukup? Pasti cukup. Misalnya tingkat kematian satu orang perseribu, artinya jika ada 70.000 anggota CU sekarang, ada 70 orang meninggal maka total yang ditanggung CU hanya Rp.350 juta (70 x Rp 5 juta). Artinya pas-pasan antar pemasukan sumbangan dan pengeluaran sama, yakni Rp 350.000.000 (70.000 x Rp.50.000).

Pengalaman kami sudah puluhan tahun, jumlah yang meninggal tidak sebanyak itu. Selalu masih ada dana lebih dari sumbangan itu. Dana ini tidak boleh dibagi, tetapi menjadi modal lembaga. Karena kalau dibagi dan tiba-tiba ad ayang meninggal maka CU akan tidak bisa membayarnya.

Ada beberapa persyaratan yang harus diperhatikan agar skenario santunan ini berjalan. Pertama, keluarga yang masuk harus utuh, dalam arti semua anggota keluarga dari anak yang  baru lahir sampai orangtua yang tinggal dalam rumah yang sama, semua menjadi anggota. Kedua, dalam kelompok/lembaga berupa Credit Union, idealnya minimal 1000 Kepala Keluarga yang bergabung.

Ini yang menyebabkan CU itu berkembang. Kami tidak memikirkan CU sebagai lembaga keuangan tapi alat untuk mengembangkan uang yang sedikit-sedikit itu.

Sering ada pertanyaan: kita kan perlu uang, mengapa uangnya ditabung? CU bukan ditabung, ini hanya strategi saja. Misalnya kalau kita mau punya sepeda motor, kita cari uang dulu lalu pergi ke pasar dan beli sepeda motor. Sepeda motor dapat tapi uang kita habis. Di CU sebaliknya, yakni, bagaimana sepeda motor kita dapat tetapi uang kita tetap ada. Bagaimana caranya? Tabung uang di CU lalu pinjam uang di CU untuk beli motor. Biasanya maksimal pinjaman tiga kali lipat dari tabungan. Jadi kalau kita tabung Rp 4 juta, bisa pinjam 12 juta dan bisa beli sepeda motor baru. Bayangkan kalau kita ke toko sepeda motor dengan uang Rp 4 juta dipastikan tidak bisa membeli sepeda motor.

Disini sering timbul pertanyaan, kok kita pinjam uang sendiri dan harus membayar bunga lagi. Tapi sebetulnya tidak demikian. Bunga kita dikembangkan CU 15 persen; sedangkan kita menggunakan uang CU adalah 24 persen menurun atau 13 persen tetap.

Selanjutnya angka 15 dan 24 dianggap angka baku untuk perbandingan antara simpanan dan bunga pinjaman. Artinya:  S:P = 15:24 (S=Simpanan; P=Pinjaman).

Contohnya begini:

S : P = 15 : 24. S  ditentukan sebesar 10%. Jadi, berapa bunga pinjaman yang diberikan agar adil?

S : P = 15 : 24 → 10 : P = 15 : 24

15 P = 10 x 24

P      = 10 x 24 / 15

P      = 16%

Jika bunga pinjaman ditentukan lebih dulu, misalnya  18%, berapa besar bunga Simpanan yang adil?

S:P=15:24

S:18=15:24

S=18×15/24

S=11,25%

Jadi kalau saya pinjam Rp.10 juta di CU, maka dalam setahun saya hanya mengembalikan Rp 11,3 juta sedangkan uang saya dikembangkan CU menjadi Rp 11,5 juta. Jadi sebenarnya saya bukan membayar bunga di CU tapi dengan cara begitu uang saya di CU tetap ada dan bertambah.

Ini hebatnya CU. Itu keuntungannya di CU. Uang yang seribu, lima ribu sehari itu terus berkembang. Dengan meminjam uang di CU maka Anda mengamankan uang Anda sendiri. Jadi tidak ada cerita orang mau melarikan uang pinjamannya. Tentu tidak semua orang akan meminjam karena yang menjadi anggota di CU dari yang baru lahir sampai yang sudah tua. Tidak apa-apa karena 65 persen uang sudah diamankan. Struktur keuangan CU harus standar seperti ini.

Neracara Cu…………
AktivaPasiva
Likuiditas: 10% – 20%Saham: 10% – 20%
Pinjaman Beredar: 70% – 80%Non Saham: 70% – 80%
Kelalaian: ≤ 5%

Aset Yang Tidak Menghasilkan

≤ 5%

Modal Lembaga

≥10%

Terakhir, bagaimana merencanakan pensiuna di hari tua. Kami bercita-cita bagaimana petani, buruh bisa pensiun, bisa membuat pensiunnya sendiri. Contohnya, kita mau pension Rp 1,5 juta sebulan. Berarti kalau satu persen kan perlu Rp 150 juta. Jika dia mau pensiun 30 tahun lagi maka 5 tahun sebelumnya dia harus punya setengahnya, yakni Rp 7 juta, lima tahun sebelumnya punya Rp 75 juta sehingga 0 tahun seharusnya dia punya Rp 2,5 juta. Artinya kalau saya mau pensiun Rp1,5 juta dalam 30 tahun lagi maka saya harus menyiapkan uang Rp 2,5 juta. Cicilan perbulannya hanya Rp 72.500 dan dalam 5 tahun lunas. Perhitungannya begini.

Tahun keJumlah Uang (Rp)
30150.000.000
2575.000.000
2037.500.000
1518.750.000
109.375.000
54.687.000
02.343,50- 2.500.000

Jadi, mulai dengan 2,5 juta rupiah sekarang. Pinjam di Credit Union. Pinjaman tersebut kemudian ditabungkan kembali ke Credit Union yang disebut dengan Kapitalisasi. Kemudian cicil Rp.72.500/ bulan selama 5 tahun. Selanjutnya tinggal menunggu pensiun Rp 1,5 juta/bulan setelah 30 tahun.

Bila kebiasaan mencicil Rp 72.500 dilakukan lebih dari 5 tahun, maka untuk pensiun sebesar 1,5 juta rupiah/bulan tidak perlu menunggu hingga 30 tahun. Pensiun janda/duda semakin besar. Akan semakin besar dan semakin besar bila diteruskan dari generasi ke generasi jika uang Rp. 150.000.000 diberikan ke ahli waris.

Apakah petani, buruh bisa menabung sebesar itu? Pasti bisa dengan asumsi semuanya bisa jadi uang: sampah, kayu, batu bahkan kotoran. Dan yang terutama, jangan menabung dari kelebihan karena uang pasti tidak pernah lebih. Menabunglah karena kebutuhan, setara dengan kebutuhan makan minum sehari-hari. Kita harus yakin bahwa menabung adalah ibarat benih yang harus selalu disediakan dan ditanam. Ada pengalaman di Kalbar, ada beberapa desa yang hampir lima tahun selalu gagal panen karena diserang hama belalang. Tetapi anehnya, setiap tahun petani selalu menanam benih terbaik. Entah dari mana mereka mendapatkan benih itu.

Saya yakin pasti masyarakat bisa mengubah hidupnya dengan menjadi anggota CU. Banyak contoh masyarakat bisa membeli mobil, membuat rumah, membuat usaha dengan modal pinjaman di CU. Nah, ini kreditnya kredit uang. Kalau di bank ini ditertawakan karena aneh. Kita pinjam uang di CU, tabung di CU lalu kita cicil.

Tentu jangan pinjam di bank dan tabung di bank karena rugi, bukan saya anti bank. Di bank, bunga pinjaman kita 15% sedangkan bunga tabungan kita hanya 2%. Tapi di CU lain; pinjaman 13%, bunga tabungan 15%.

Hebatnya di CU itu kita menabung dengan uang orang lain. Bagaimana caranya? Ya itu tadi, dengan meminjam lalu ditabungkan. Kan saya awalnya tidak punya uang, tapi dengan meminjam uang di CU (uang anggota) maka saya bisa punya uang. Secara keuangan ini sah karena saya membayar biaya, membayar bunga atas pinjaman itu.

Kelemahan sekaligus ada sisi positifnya kita adalah menabung sulit, tetapi membayar utang biasanya bisa. Psikologi masyarakat inilah yang sebenarnya dikembangkan CU. Ini karena sebagian masyarakat kita masih punya rasa malu kalau berhutang.

Catatan: Saya (Edi Petebang) diajak Pak Mecer secara khusus meliput kegiatan ini untuk Majalah Kalimantan Review, bersama jurnalis RuaiTV . Inilah teks asli pidato Pak Mecer dalam penganugerahan USD Award tersebut.

 

Credit Union Pulau-Pulau Batu, Nias, Sumatera Utara

Credit Union Pulau-Pulau Batu, Nias, Sumatera Utara

Dalam cuaca mendung dan gerimis, puji Tuhan, pesawat Susi Air dengan full penumpang 12 orang mendarat dengan mulus di Bandara Lasondre, bandara kecil di tepi laut, di pulau kecil, dengan runway sekitar 500 meter, pukul 08.50 WIB, 6 Januari 2025. Terbang sekitar satu jam dari bandara Padang. Pesawat baling-baling ini pilot dan ko-pilot keduanya orang non Indonesia.

Ketegangan di udara, sebelum landing karena cuana buruk, menjadi sirna setiba di bandara karena saya disambut dengan hangat Pak Firman Sarumaha atau biasa dipanggil Ama Dela dan Melintasi Bohalima. “Ya, ahowu Pak Edi. Selamat Datang di Pulau Tello,”sapa mereka. Karena hari gerimis, kami bertiga naik becak motor ke dermaga speedboad, sekitar 500 meter dari bandara.

Ama Dela adalah Manajer Koperasi Simpan Pinjam Kasih Setia Pulau Telo, biasa disingkat  CU KSPT. Melintasi adalah kepala kantor CU KSPT Tempat Pelayanan Pulau Tello. Kami sudah saling kenal. Pak Firman kenal karena beberapa kali kami jumpa meski melalui virtual dalam sejumlah pelatihan CU yang saya fasilitasi. Sedangkan Melintasi saya kenal karena menjadi peserta Training Centre PUSKOPCUINA selama 30 hari di Wisma PSP Bukit Laet, Kubu Raya Kalbar tahun silam.

Bersama sebagian staf CU KSPT di Pulau Tello

Diskusi di sela pelatihan

Saya ke Pulau Tello ini penugasan Federasi Nasional Credit Union Indonesia (PUSKOPCUINA), koperasi sekunder nasional dengan 46 CU anggota di seluruh Indonesia, untuk memberikan dua training sekaligus kepada pengurus/pengawas, calon pengurus/ pengawas serta manajemen CU KSPT. “Manajemen ini sengaja kami ikutkan sebagai peserta karena materi pelatihan ini sesungguhnya harus diketahui, dipahamai semua aktivis credit union,”kata Polius Geba, Wakil Ketua Bidang Pendidikan dalam sambutan pembukaan kegiatan.

Dua training tersebut adalah Credit Union Supervisor Competency Course (CUSCC) dan Credit Union Directors Competency Course (CUDCC). CUSCC untuk pengawas dan calon pengawas dan CUDCC untuk pengurus dan dan calon pengurus. Selain dari CU KSPT, juga hadir sebagai peserta perwakilan pengurus dan pengawas CU Tamauli dari Mandailing Natal dan CU Seia Sekata dari Padang Sidempuan.

Peserta Diklat di depan kantor CU KSPT Tello

Peserta Diklat

 

CU KSPT: Penggerak Warga Pulau-Pulau Batu

Saya tidak akan membahas tentang pelatihan tersebut dalam tulisan ini, meski bagi saya ini pelatihan terlama yang pernah saya fasilitasi. Namun tidak terasa lelah karena pesertanya semangat. Ada banyak sharing dari peserta tentang praktik tata kelola credit union. Dengan dua pelatihan tersebut diharapkan CU KSPT khususnya dan CU Tamauli serta CU Seia Sekata semakin baik tata kelolanya.

Sosialisasi CU di gereja. CU KSPT menyatu dengan gereja, khususnya Gereja Katolik

Nantikan juga tulisan saya tentang keindahan pulau-pulau di sekitar Pulau Tello serta perjalanan yang ngeri-ngeri sedap.

Ada pepatah suku Nias yang saya temukan dalam pencarian di google. Yakni “Aoha noro nilului wahea, aoha noro nilului waoso, alisi khöda ta fadaya-daya, hulu khöda ta faewolo-wolo, Ufaolo göi ndra’o, öfaolo göi ndra’ugö, ena’ö a’ozu ita fao-fao”. Yang artinya kurang lebih, “pekerjaan (masalah) yang dikerjakan (dipecahkan) secara bersama-sama akan lebih gampang tuntasnya, tidak saling menjatuhkan, saling menghormati, dan memiliki tujuan yang sama yaitu kepentingan bersama. Sepertinya pepatah tersebut menjadi salah satu pendorong pendirian CU Kasih Setia Pulau Tello, CU yang lahir dari Rahim Gereja Katolik, khususnya Paroki Tello.

Suster Ingebor, salah satu perintis CU KSPT

Menurut data yang saya dapatkan dari CU KSPT, cikal bakal CU ini adalah Ketika tahun 1998 Pastor Heinrich, OFM Cap memperkenalkan CU di Paroki Santo Fidelis Pulau-Pulau Batu. Banyak umat yang tertarik, namun selesai pertemuan itu belum ada tindak lanjutnya.  Belum ada umat yang bersedia untuk menjadi pengurus pengawas karena juga belum terlalu banyak tahu tentang per-CU-an.

Tahun 2003 Pastor Honorius Nduru, OFM Cap, Pastor Paroki Tello, Kembali mencanangkan pendirian CU. Ia mengundang Pastor Amator, Ketua PSE Keuskupan Sibolga. Pastor Amator memaparkan situasi CU di daratan Nias yang sudah puluhan tahun berkembang. Selesai pertemuan ini juga belum ada kongkritnya.

Paska bencana hebat tsunami di Nias (26 Desember 2004) dan gempa tektonik (28 Maret 2005) yang berdampak luas pada kehidupan masyarakat, Pastor Honorius makin serius ingin mendirikan CU di Paroki Pulau Tello. Tahun 2006 Pastor Honorius mengundang Pastor Mikael Sitanggang, Pr., Ketua PSE Keuskupan Sibolga, untuk memfasilitasi pertemuan dengan Dewan Santo Fidelis di Pulau Tello tanggal 13 Mei 2006. Ia datang Bersama Pastor Purwanto.

Dalam rapat ini disepakati beberapa hal. Pertama, dibentuk panitia persiapan pendirian dan penerimaan anggota credit union, dengan susunan kepengurusan sebagai berikut. Penasihat:   Pastor paroki P. Honorius Nduru, OFM Cap. Ketua: Amril Daya; Wakil Ketua: Melki Sarumaha; Sekretaris: Polius S. Geba; Bendahara: Katekis Fiktor Harefa; Anggota Sr. Martina.

Panitia Persiapan penerimaan anggota baru bertugas menerima anggota tanggal 22 Mei 2006 sampai 30 Juni 2006 dan mempersiapkan peresmian pembentukan CU.

Tanggal 5 Juli 2006 Panitia Persiapan Bersama DPPI, tokoh umat dan para suster mengadakan pertemuan dan menetapkan: (1). Anggota perdana 65 orang; (2). Nama credit union adalah Credit Union Kasih Setia Pulau Tello; (3).Ikatan pemersatu: Paroki Santo Fidelis Pulau-Pulau Batu; (4). Ketua Pengawas: Pastor Paroki Santu Fidelis Pulau-Pulau Batu; (5). Sekretaris Pengawas: diajukan oleh pengurus harian dan diputuskan pastor paroki dan ketua PSE; (6). Anggota dari PSE Keuskupan Sibolga. Sah, didirikan CU KSPT tanggal 5 Juli 2006.

Rapat CU KSPT

Diklat di Mahang

Diklat di Bale-Bale

Peresmian pendirian CU KSPT dihadiri unsur pemerintah, Pastor Paroki, DPPI, Ketua PSE Keuskupan Sibolga, P. Mikael Sitanggang, Sekretaris KSP3, Yohanes Bohalima serta anggota perdana 65 orang. Rapat perdana dipimpina oleh panitia persiapan pendirian dan penerimaan anggota.

Rapat perdana menetapkan susunan pengurus dan pengawas CU KSPT periode 15 Juli 2006 sd 15 Juli 2009, yakni sebagai berikut. Pengurus adalah, Ketua: Amril Daya , S.Pd; Sekretaris I: Fiktor Harefa; Sekretaris II: Firman Sarumaha; Bendahara I: Sr. Ingebor (pemegang kas); Bendahara II: Erika Bago. Karyawan sekaligus membantu bendahara I adalah Meliana. Pengawas adalah, Ketua: Pastor Honorius Nduru, OFM Cap; Sekretaris: Polius S. Geba; Angota: P. Mikael Sitanggang, Pr. Panitia kredit diketuai Meli Sarumaha, sekretaris Erika Bago.

RAT CU KSPT

CU KSPT berjalan lancar. Setiap tiga tahun dilakukan pemilihan pengurus dan pengawa sbaru secara demokratis.

Mengangkat Ekonomi Umat

Pelan tapi pasti, CU KSPT terus berkembang. Sampai 31 Desaember 2024 sudah 6,891 orang menjadi anggotanya.  Total asset anggota hamper 46 miliar rupiah. CU KSPT melayani anggota di empat kantor cabang/tempat pelayanan, yakni Kantor Cabang Tello, Kantor Cabang Simuk, Kantor Cabang Hibala, Kantor Cabang Baluta. Keempatnya di pulau terpisah, terjauh dengan kantor Pusat (Pulau Tello) adalah Simuk, hamper 5 jam dengan speedboad.

Mengenalkan CU KSPT ke sekolah

Ada beragama produk dan pelayanan yang diberikan kepada anggota. Pelayanan solidaritas duka, pendidikan tentang CU, pendidikan kewirausahaan. Ada 8 jenis simpanan, yakni Simpanan Pokok (SP), Simpanan Wajib (SW), Tabungan Setara Saham (TSS), Tabungan Harian (TARI), Tabungan Anak Sekolah (TASE), Tabungan Bangun Rumah (TABARU), Tabungan Pendidikan (TAPEN), Tabungan Pernikahan (TAPER).

Ada empat jenis pinjaman, yakni Pinjaman Umum (PU), Pinjaman Bangun Rumah (PBR), Pinjaman Pendidikan dan Pinjaman Pernikahan.

Misa rutin di kantor CU KSPT

“Puji Tuhan, sambutan masyarakat terhadap CU Kasih Setia ini sangat baik. Anggota sunggu merasakan manfaat menjadi anggota CU; memperbaiki kehidupan social ekonomi mereka lah. Kami, para pengurus, pengawas, staf manajemen,  akan terus semaksimal mungkin mengembangkan CU ini,”jelas Stefanus Zamili, Sekretaris Pengurus CU KSPT.

Tantangan terbesar dan terberat dalam pengembangan CU Kasih Setia PulauTello ini adalah medan yang berat karena harus ke pulau-pulau lain dengan ombak terkadang yang membahayakan. “Kami Pengawas kalau pemeriksan ke KC/TP biasnya mesti bersama pengurus yang melakukan monitoring supaya efisien. Itu pun kalau cuaca, laut tidak baik, tidak bisa ke TP/KC. Namun itulah tantangan yang harus kami hadapi, dan kami pasti bisa, selalu ada Solusi,”timpal Lulus Daya, Ketua Pengawas CU KSPT.

Peluang pengembangan CU KSPT

Ikan laut, sumber kehidupan masyarakat

Pulau Tello adalah ibukota kecamatan Pulau-Pulau Batu, Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Luas kecamatan ini adalah 105,09 km persegi. Kecamatan ini terdiri dari sekitar 100 pulau. Ada 22 desa di wilayah kecamatan yang semuanya dikelilingi lautan ini, yakni Balögia, Baruyulasara, Bawö’amahelatö, Bawödobara, Bawö’omasi’ö, Hili’amaodula, Hili’otalua, Koto, Lasonde, Loboi, Onaya, Orahili, Pasar Pulau Tello, Raparapa MelayuSebuasi, Sidua’ewali, Sifitu’ewali, Silima’ewali, Simaluaya, Sinauru, Si’öfa’ewali, Sisarahili.

refreshing keluarga besar CU KSPT di pulau Sibele, salah satu pulau dengan pantai yang indah

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Nias Selatan tahun 2022, banyaknya penduduk Pulau-Pulau Batu 9.739 jiwa, dengan kepadatan 93 jiwa/km. Penduduk terbanyak terdapat di kelurahan Pasar Pulau Tello,  yakni 1.534 jiwa. Sebagian besar penduduk di kecamatan ini bekerja sebagai nelayan (mayoritas), petani , dan beberapa bekerja sebagai PNS, polisi dan TNI, guru, pedagang dan pekerjaan lainnya.

Mayoritas penduduk adalah suku Nias, suku asli. Agama mayoritas adalah Kristen Protestan (64,11%); disusul Katolik (14%), sisanya beragama Islam dan Budha.

salah satu pulau di Pulau-Pulau Batu yang indah

Dengan potensi penduduk yang masih ada, maka peluang pengembangan CU KSPT masih terbuka. Tentu dengan prioritas pelayanan terbaik kepada anggota yang sudah ada.

Semoga CU Kasih Setia Pulau Tello terus bertumbuh, tata kelolanya semakin sehat sesuai standar tata Kelola credit union, agar CU nya berkelanjutan. Dan yang terutama, anggota meningkat kesejahteraannya karena mendapatkan manfaat dengan bergabung menjadi anggota CU Kasiih Setia Pulau Tello.

“CU Kasih Setia Pulau Tello:  Kejar Mimpi, Kita Bersama Mewujudkannya”

 

Edi Petebang, Pulau Tello, 9 Januari 2025

 

 

 

THE CUPS WAYS

THE CUPS WAYS

Buku ini disusun berdasar dokumen-dokumen yang ada berkaitan perjalanan sejarah CUPS. Dokumen-dokumen RAT CUPS, misalnya, relative lengkap keberadaannya. Ini sangat membantu penulisan, terutama menghindari sikap bias penilaian terhadap kondisi tertentu. (Walau dalam beberapa aspek penulisan, bisa jadi tidak terhindarkan). Beberapa pengalaman pribadi staf, yang mewakili nilai perjuangan secara keseluruhan, juga dihadirkan dalam buku ini.
Penulisan buku THE CUPS WAY ini dilakukan untuk mendokumentasikan sejarah kelembagaan CUPS. Dengan pewarisan pengalaman hidup, perjuangan dan nilai-nilai lembaga CUPS yang dihadirkan dalam buku ini, tentu  diharapkan generasi penerus generasi baru CUPS dapat mengambil pelajaran untuk terus mengembangkan lembaga ini. Bagi anggota, buku ini juga bernilai untuk memperkuat komitmen anggota menjadi anggota yang baik dan aktif. Serta menggunakan CUPS sebagai kendaraan menuju kesejahteraan.