Dalam acara puncak perayaan Dies Natalis ke-55 dan Lustrum XI Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 17 Desember 2010 diserahkan Universitas Sanata Dharma Award kepada Drs. Anselmus Robertus Mecer sebagai penggerak credit union di Indonesia. Inilah pidato asli sekitar 60 menit dari AR. Mecer yang memukau 400 orang tamu undangan. Sesekali pidato terhenti karena mendapat aplaus dari hadirin. Berikut isi pidato AR Mecer selengkapnya.
Saya mungkin tidak layak menerima penghargaan yang diberikan ini karena apa yang kami lakukan adalah sesuatu yang sangat sederhana, hal-hal yang sepele-sepele saja. Apalagi kami tidak tahu teori ini itu, bagi kami yang penting apa yang dapat dikerjakan, dikerjakan dulu.
Apa yang kami lakukan berawal dari keprihatinan terhadap diri sendiri. Orang tua tinggal jauh di pedalaman Kalimantan Barat. Sejak SD, karena tidak ada sekolah di kampung, maka saya harus bersekolah ke kampung lain. Ini ada kaitannya dengan Gereja Katolik karena merekalah yang membuka sekolah di kampung itu. Sekolah itu gratis, tahun 1950-an. SMP pindah ke kota kabupaten Ketapang sampai SMA. Lalu melanjutkan pendidikan guru sampai jenjang sarjana muda. Setamat kuliah saya mengajar di sebuah sekolah Katolik di Pontianak. Oleh perguruan tinggi negeri yang ada di Kalbar (Universitas Tanjungpura-red.) saya bebeberapa kali dibujuk, diminta untuk mengajar di sana. Akhirnya saya setuju dengan syarat saya bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana penuh (S1) terlebih dahulu. Akhirnya kami sepekat.
Nah, persoalan kemiskinan ini sederhana kami melihatnya. Miskin itu sederhananya tidak punya uang. Padahal uang itu ternyata aspeknya luas, apa saja bisa jadi uang. Rumput, tanah, batu dan banyak hal bisa jadi uang. Dapat uang itu mudah. Nah persoalannya mengapa kita tidak mempunyai uang. Setelah saya renungkan, ternyata untuk mendapatkan uang itu perlu alat.
Saya pernah membayangkan di pinggir laut yang ikannya banyak sekali. Lalu saya bilang teman, coba kamu berenang ke situ dan tangkap ikan-ikannya. Dia tertawa, “Anda ini gila kah? itu perlu alat untuk menangkapnya,”jawabnya. Uang itu sama, perlu alat untuk menangkapnya. Dari situ kami terinspirasi, boleh jadi CU yang baru kami kenal saat itu adalah alat untuk menangkap uang itu. Bagi kami CU itu adalah alat, bukan lagi hitung-hitungan keuangan seperti di perbankan. CU adalah alat. Sebab bagi kami CU adalah alat untuk memiliki uang tadi. Jika uang sudah dimiliki banyak hal lain bisa dilakukan karena dengan uang itu pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, khususnya sandang pangan dan papan mudah dipenuhi.
Nah kemudian kami terpikir pada kehidupan petani. Saya merenung, mengapa sekarang banyak uang tapi orang masih kelaparan. Padahal jaman bapak saya dulu, waktu saya masih kecil tahun 1950-an, mereka tidak ada uang tapi makan cukup. Tidak ada istilah lapar. Walaupun sederhana kami punya rumah. Kalau sakit bisa berobat karena biasanya berobat pakai tanaman yang ada di hutan. Tiap tahun orang kampung pesta.
Setelah coba kami renungkan, apa sebenarnya yang mereka lakukan sehingga segala kebutuhan hidup jaman orang tua saya dulu bisa terpenuhi padahal mereka tidak punya uang. Ternyata ada empat hal yang diperjuangkan para petani yang tidak boleh tidak harus dipenuhi. Sebab jika tidak, maka hidup, nyawa akan terancam.
Yang pertama adalah makan minum (konsumsi). Jika tidak ada makanan-minuman nyawa akan terancam. Mereka berjuang mencari makan minum untuk bertahan hidup. Makan minum ini sesuatu yang penting, terus menerus dan tidak ada alasan, harus ada makan minum.
Yang kedua yang penting itu adalah benih. Penyediaan benih itu mutlak harus dilakukan, tidak peduli apakah panen dalam tahun itu gagal atau berhasil, benih harus pertama-tama disisihkan dan dipilih dari hasil panen yang terbaik untuk ditanam. Jika diimplementasikan dalam bentuk uang artinya seberapa besar-kecil pun pendapatan, kita harus menabung atau berinvestasi. Menabung jangan dari karena kelebihan uang, tapi perjuangan untuk masa depan.
Yang ketiga, supaya masyarakat di kampung tetap hidup senang dan damai, adalah saling peduli, kerja sama, solidaritas. Kami orang Dayak yang hidup di rumah panjang tidak ada cerita orang di bilik lain makan sedangkan di bilik lain tidak makan. Tidak, kami solider, jika ada rejeki, dapat buruan dibagi, kita nikmati bersama. Dulu sih, tapi nilainya masih bisa dipertahankan. Setelah direnungkan, ternyata aspek social, kebersamaan itu merupakan kebutuhan, sama seperti makan minum dan benih itu.
Yang keempat, biasanya sebelum melakukan kegiatan atau ritual, petani/ masyarakat di kampung selalu mengucapkan rasa syukur, selalu ada ritual-ritual kepada Yang Kuasa. Kalau panen baru, padi pertama yang diambil dipersembahkan kepada Yang Kuasa dulu, bukan langsung dimakan.
Setelah melalui refleksi dan permenungan panjang, ternyata keempat hal itu tidak tidak diperhatikan lagi oleh petani. Kepedulian tidak diperhatikan lagi, bersyukur itu sudah jarang dilakukan. Kebetulan saya Katolik, di kampung saya umatnya sekitar dua ribu tetapi kalau sembayang hari minggu ada puluhan orang saja. Itulah sekilas gambaran tentang rendahnya syukur masyarakat kita.
Empat hal seharusnya selalu diperjuangkan dan dilakukan secara bersamaan. Kalau sekarang yang dilakukan hanya satu hal saja, yakni makan minum (konsumtif). Empat hal itu kemudian kami racik dan disederhakan dijadikan uang. Uang itu memerlukan pengelolaan, manajemen tersendiri. Kami membuat produk CU itu menjadi empat pokok. Yakni produk konsumsi, produk sosial, produk benih dan religious/ritual.
Benih itu harus menghasilkan maksimal. Sebab jika padi satu biji ditanam, tumbuh dan berbuah hanya satu biji saja itu artinya benih itu tidak baik. Artinya produk benih itu harus dirancang berkembang. Ukuran uang berkembang adalah lima belas persen. Pengalaman kami bisa mengembangkan uang ini lima belas persen pertahun dengan asumsi inflasi dibawah 10 persen jadi uang berkembang. Dengan 15% pertahun itu maka setiap lima tahun uang yang kita tabung menjadi dua kali lipat atau 100 persen. Dengan Rp.2.000 perhari terus dikembangkan maka dalam 40 tahun akan menjadi Rp 1 miliar.
Gunakan Rumus 72 untuk mengembangkan uang kita dalam produk yang dikategorikan sebagai benih. Rumus 72 untuk menunjukan kelipatan uang yang dikembangkan dalam jangka waktu tertentu dengan rumus p = 72:n; p = prosentase, n = jangka waktu (Burke Hedges:Copycat Marketing 101). Misalnya kita perlu menggandakan uang 2x lipat (100%) dalam 6(enam) tahun. Berapa prosen bunga yang diperlukan pertahun agar targetnya tercapai? Dengan menggunakan rumus 72, yaitu : P = 72 : n (dalam hal ini n = 6). Jadi p = 72 : 6 = 12, berarti bunga yang diperlukan untuk pengembangan tersebut 12% pertahun.
Nah yang produk makan minum, seperti halnya kebutuhan makan minum kita sehari-hari; tidak boleh lebih, tidak boleh kurang, harus cukup. Artinya tidak perlu dengan bunga yang tinggi. Katakanlah uang itu hanya dititipkan di CU, seperti di bank, yang setiap saat bisa diambil. Jadi kalau bank 2 persen, yang produk itu 2 persen juga.
Produk sosial merupakan salah satu jenis produk yang sifatnya sosial karitatif (amal), tetapi sesungguhnya apa yang diamalkan/disumbangkan pada akhirnya membantu dirinya sendiri. Di samping uang tabungan wajib, setiap tahun kami di CU juga wajib memberikan sumbangan Rp 50 ribu tiap orang. Dan itu hanya diberikan kepada orang yang meninggal. Kalau orang meninggal dibantu (disantuni) Rp5 juta. Secara hitung-hitungan ekonomi cara seperti ini tidak ada. Dengan pengalaman kami praktek ini tidak merugikan. Karena untuk menyumbang Rp. 5 juta itu perlu waktu 100 tahun (100 x Rp.50.000). Orang/ anggota CU tidak ada yang umurnya 100 tahun. Orang yang baru masuk seminggu dan telah membayar sumbangan Rp. 50 ribu itu lalau kemudian misalnya meninggal, tetap mendapat Rp 5 juta. Ini luar biasa, tidak akan ditemui di tempat lain.
Pertanyaannya, bagaimana bisa cukup? Pasti cukup. Misalnya tingkat kematian satu orang perseribu, artinya jika ada 70.000 anggota CU sekarang, ada 70 orang meninggal maka total yang ditanggung CU hanya Rp.350 juta (70 x Rp 5 juta). Artinya pas-pasan antar pemasukan sumbangan dan pengeluaran sama, yakni Rp 350.000.000 (70.000 x Rp.50.000).
Pengalaman kami sudah puluhan tahun, jumlah yang meninggal tidak sebanyak itu. Selalu masih ada dana lebih dari sumbangan itu. Dana ini tidak boleh dibagi, tetapi menjadi modal lembaga. Karena kalau dibagi dan tiba-tiba ad ayang meninggal maka CU akan tidak bisa membayarnya.
Ada beberapa persyaratan yang harus diperhatikan agar skenario santunan ini berjalan. Pertama, keluarga yang masuk harus utuh, dalam arti semua anggota keluarga dari anak yang baru lahir sampai orangtua yang tinggal dalam rumah yang sama, semua menjadi anggota. Kedua, dalam kelompok/lembaga berupa Credit Union, idealnya minimal 1000 Kepala Keluarga yang bergabung.
Ini yang menyebabkan CU itu berkembang. Kami tidak memikirkan CU sebagai lembaga keuangan tapi alat untuk mengembangkan uang yang sedikit-sedikit itu.
Sering ada pertanyaan: kita kan perlu uang, mengapa uangnya ditabung? CU bukan ditabung, ini hanya strategi saja. Misalnya kalau kita mau punya sepeda motor, kita cari uang dulu lalu pergi ke pasar dan beli sepeda motor. Sepeda motor dapat tapi uang kita habis. Di CU sebaliknya, yakni, bagaimana sepeda motor kita dapat tetapi uang kita tetap ada. Bagaimana caranya? Tabung uang di CU lalu pinjam uang di CU untuk beli motor. Biasanya maksimal pinjaman tiga kali lipat dari tabungan. Jadi kalau kita tabung Rp 4 juta, bisa pinjam 12 juta dan bisa beli sepeda motor baru. Bayangkan kalau kita ke toko sepeda motor dengan uang Rp 4 juta dipastikan tidak bisa membeli sepeda motor.
Disini sering timbul pertanyaan, kok kita pinjam uang sendiri dan harus membayar bunga lagi. Tapi sebetulnya tidak demikian. Bunga kita dikembangkan CU 15 persen; sedangkan kita menggunakan uang CU adalah 24 persen menurun atau 13 persen tetap.
Selanjutnya angka 15 dan 24 dianggap angka baku untuk perbandingan antara simpanan dan bunga pinjaman. Artinya: S:P = 15:24 (S=Simpanan; P=Pinjaman).
Contohnya begini:
S : P = 15 : 24. S ditentukan sebesar 10%. Jadi, berapa bunga pinjaman yang diberikan agar adil?
S : P = 15 : 24 → 10 : P = 15 : 24
15 P = 10 x 24
P = 10 x 24 / 15
P = 16%
Jika bunga pinjaman ditentukan lebih dulu, misalnya 18%, berapa besar bunga Simpanan yang adil?
S:P=15:24
S:18=15:24
S=18×15/24
S=11,25%
Jadi kalau saya pinjam Rp.10 juta di CU, maka dalam setahun saya hanya mengembalikan Rp 11,3 juta sedangkan uang saya dikembangkan CU menjadi Rp 11,5 juta. Jadi sebenarnya saya bukan membayar bunga di CU tapi dengan cara begitu uang saya di CU tetap ada dan bertambah.
Ini hebatnya CU. Itu keuntungannya di CU. Uang yang seribu, lima ribu sehari itu terus berkembang. Dengan meminjam uang di CU maka Anda mengamankan uang Anda sendiri. Jadi tidak ada cerita orang mau melarikan uang pinjamannya. Tentu tidak semua orang akan meminjam karena yang menjadi anggota di CU dari yang baru lahir sampai yang sudah tua. Tidak apa-apa karena 65 persen uang sudah diamankan. Struktur keuangan CU harus standar seperti ini.
| Neracara Cu………… | |
| Aktiva | Pasiva |
| Likuiditas: 10% – 20% | Saham: 10% – 20% |
| Pinjaman Beredar: 70% – 80% | Non Saham: 70% – 80% |
| Kelalaian: ≤ 5% Aset Yang Tidak Menghasilkan ≤ 5% | Modal Lembaga ≥10% |
Terakhir, bagaimana merencanakan pensiuna di hari tua. Kami bercita-cita bagaimana petani, buruh bisa pensiun, bisa membuat pensiunnya sendiri. Contohnya, kita mau pension Rp 1,5 juta sebulan. Berarti kalau satu persen kan perlu Rp 150 juta. Jika dia mau pensiun 30 tahun lagi maka 5 tahun sebelumnya dia harus punya setengahnya, yakni Rp 7 juta, lima tahun sebelumnya punya Rp 75 juta sehingga 0 tahun seharusnya dia punya Rp 2,5 juta. Artinya kalau saya mau pensiun Rp1,5 juta dalam 30 tahun lagi maka saya harus menyiapkan uang Rp 2,5 juta. Cicilan perbulannya hanya Rp 72.500 dan dalam 5 tahun lunas. Perhitungannya begini.
| Tahun ke | Jumlah Uang (Rp) |
| 30 | 150.000.000 |
| 25 | 75.000.000 |
| 20 | 37.500.000 |
| 15 | 18.750.000 |
| 10 | 9.375.000 |
| 5 | 4.687.000 |
| 0 | 2.343,50- 2.500.000 |
Jadi, mulai dengan 2,5 juta rupiah sekarang. Pinjam di Credit Union. Pinjaman tersebut kemudian ditabungkan kembali ke Credit Union yang disebut dengan Kapitalisasi. Kemudian cicil Rp.72.500/ bulan selama 5 tahun. Selanjutnya tinggal menunggu pensiun Rp 1,5 juta/bulan setelah 30 tahun.
Bila kebiasaan mencicil Rp 72.500 dilakukan lebih dari 5 tahun, maka untuk pensiun sebesar 1,5 juta rupiah/bulan tidak perlu menunggu hingga 30 tahun. Pensiun janda/duda semakin besar. Akan semakin besar dan semakin besar bila diteruskan dari generasi ke generasi jika uang Rp. 150.000.000 diberikan ke ahli waris.
Apakah petani, buruh bisa menabung sebesar itu? Pasti bisa dengan asumsi semuanya bisa jadi uang: sampah, kayu, batu bahkan kotoran. Dan yang terutama, jangan menabung dari kelebihan karena uang pasti tidak pernah lebih. Menabunglah karena kebutuhan, setara dengan kebutuhan makan minum sehari-hari. Kita harus yakin bahwa menabung adalah ibarat benih yang harus selalu disediakan dan ditanam. Ada pengalaman di Kalbar, ada beberapa desa yang hampir lima tahun selalu gagal panen karena diserang hama belalang. Tetapi anehnya, setiap tahun petani selalu menanam benih terbaik. Entah dari mana mereka mendapatkan benih itu.
Saya yakin pasti masyarakat bisa mengubah hidupnya dengan menjadi anggota CU. Banyak contoh masyarakat bisa membeli mobil, membuat rumah, membuat usaha dengan modal pinjaman di CU. Nah, ini kreditnya kredit uang. Kalau di bank ini ditertawakan karena aneh. Kita pinjam uang di CU, tabung di CU lalu kita cicil.
Tentu jangan pinjam di bank dan tabung di bank karena rugi, bukan saya anti bank. Di bank, bunga pinjaman kita 15% sedangkan bunga tabungan kita hanya 2%. Tapi di CU lain; pinjaman 13%, bunga tabungan 15%.
Hebatnya di CU itu kita menabung dengan uang orang lain. Bagaimana caranya? Ya itu tadi, dengan meminjam lalu ditabungkan. Kan saya awalnya tidak punya uang, tapi dengan meminjam uang di CU (uang anggota) maka saya bisa punya uang. Secara keuangan ini sah karena saya membayar biaya, membayar bunga atas pinjaman itu.
Kelemahan sekaligus ada sisi positifnya kita adalah menabung sulit, tetapi membayar utang biasanya bisa. Psikologi masyarakat inilah yang sebenarnya dikembangkan CU. Ini karena sebagian masyarakat kita masih punya rasa malu kalau berhutang.
Catatan: Saya (Edi Petebang) diajak Pak Mecer secara khusus meliput kegiatan ini untuk Majalah Kalimantan Review, bersama jurnalis RuaiTV . Inilah teks asli pidato Pak Mecer dalam penganugerahan USD Award tersebut.
