by admin | Apr 22, 2025 | BERITA, BERITA TERBARU, POPULER
Tulisan ini didedikasikan SANDU Institut atas seluruh pengabdian dan komitmen luar biasa Paus Fransiskus bagi 1,4 juta umat Katolik di dunia serta bagi perdamaian dunia, penyelamatan lingkungan hidup dan kemanusiaan universal.
Kita, umat manusia tidak belajar dari sejarah. Semoga Tuhan mengasihani kita semua. Karena kita, anak-anak yang tak bersalah mati, dan itu tidak masuk akal. Perang hanya menciptakan kehancuran. Para pemimpin dunia harus mengutamakan dialog, bukan senjata. Kita harus bicara. Kita harus meancari jalan damai. Perang bukanlah jalan.
Demikian intisari pernyataan Paus Fransiskus yang terakhir dalam wawancara dengan CBS News yang dirilis pada Minggu (20/4/2025). Esoknya 21 April 2025 sekitar pukul 07.35 waktu Italia Paus mangkat.
Paus mengecam keras serangan udara Israel ke Gaza yang telah menewaskan ribuan warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak. Ia menyebut tragedi tersebut sebagai sesuatu yang “sangat menyakitkan.
Wafatnya Paus Fransiskus menjadi kehilangan besar bagi dunia, khususnya mereka yang percaya perdamaian masih mungkin diwujudkan. Namun, pesan-pesan damainya akan terus hidup, menjadi pengingat bagi dunia, tanpa kasih dan dialog, umat manusia hanya akan mengulang penderitaan yang sama.
Paus Fransiskus tidak hanya berfokus pada masalah internal Gereja, tetapi juga berusaha membangun jembatan dengan berbagai agama dan budaya. Ia berupaya mempererat hubungan dengan dunia Muslim dan menjadi mediator dalam konflik global, termasuk di Ukraina dan Timur Tengah.
Kepemimpinan Paus Fransiskus juga sangat menonjol dalam mengedepankan isu-isu lingkungan hidup, dengan menyuarakan pentingnya merawat bumi dan berbuat lebih banyak untuk menghadapi perubahan iklim.
Warisan Paus
Kepergian Paus Fransiskus akan meninggalkan kesan yang mendalam bagi Gereja Katolik dan dunia secara keseluruhan. Sebagai Paus pertama dari Amerika Latin dan seorang Yesuit, ia memberikan perspektif baru dalam memimpin Gereja yang berfokus pada kesederhanaan, keadilan, dan kasih sayang terhadap orang-orang yang paling terpinggirkan.
Perjalanannya adalah perjalanan seorang pemimpin yang berani melawan arus, merombak tradisi, dan mengingatkan kita tentang nilai-nilai kasih sayang, keadilan sosial, dan perhatian terhadap mereka yang kurang beruntung. Meski ia telah tiada, warisan yang ditinggalkannya akan terus hidup dalam ajaran dan tindakannya yang penuh kasih.
Dikutip dari AP News, selama masa kepemimpinannya, beliau dikenal karena pendekatan yang rendah hati dan fokus pada inklusivitas, serta telah membawa perubahan signifikan dalam Gereja Katolik selama 12 tahun masa kepausannya.
Paus Fransiskus lahir dengan nama Jorge Mario Bergoglio pada tahun 1936 di Buenos Aires, Argentina, dari pasangan imigran Italia. Ia menjadi Paus pertama yang berasal dari Amerika Latin dan pertama yang berasal dari Ordo Yesuit. Sebagai Paus pertama yang memilih nama Fransiskus, ia segera dikenal dengan pendekatan yang lebih modern dan penuh kasih sayang terhadap berbagai isu global.
Sejak terpilih sebagai Paus pada tahun 2013, Paus yang ke-266, Fransiskus dikenal dengan pandangannya yang inklusif dan berfokus pada keadilan sosial. Ia berbicara lantang mengenai kemiskinan, migrasi, perubahan iklim, dan perdamaian dunia.
Kecintaannya pada orang miskin dan terlantar tercermin dalam kebijakan dan tindakan nyata, termasuk kritik tajam terhadap kebijakan imigrasi Presiden AS Donald Trump yang dinilai tidak manusiawi. Paus Fransiskus berupaya merombak struktur Gereja Katolik yang selama berabad-abad dipandang elitis dan terpisah dari kehidupan umat.
Ensiklik Paus Fransiskus
Selama menjabat Paus Fransiskus menerbitkan sejumhal ensiklik, yaknii surat edaran Paus untuk gereja yang berisi masalah penting. Paus Fransiskus, yang sudah 11 tahun menduduki posisinya itu, telah menerbitkan tiga ensiklik yaitu Lumen Fidei (2013), Laudato Si (2015), dan Fratelli Tutti (2020). Setiap ensiklik menawarkan refleksi mendalam tentang tantangan-tantangan global, seperti peran iman dalam kehidupan manusia, krisis lingkungan, dan persaudaraan universal. 
Paus Fransiskus, yang sudah 11 tahun menduduki posisinya itu, telah menerbitkan tiga ensiklik yaitu Lumen Fidei (2013), Laudato Si (2015), dan Fratelli Tutti (2020). Setiap ensiklik menawarkan refleksi mendalam tentang tantangan-tantangan global, seperti peran iman dalam kehidupan manusia, krisis lingkungan, dan persaudaraan universal.
Lumen Fidei Lumen Fidei atau Cahaya Iman merupakan ensiklik pertama yang dikeluarkan Paus Fransiskus, yaitu pada 29 Juni 2013. Ensiklik ini unik karena merupakan kolaborasi dari dua paus; Paus Benediktus XVI yang mengerjakan sebagian besar dari draf awalnya sebelum mengundurkan diri, dan kemudian diselesaikan Paus Fransiskus.
Lumen Fidei adalah bagian dari trilogi ensiklik tentang tiga keutamaan teologal: harapan (yang dibahas dalam Spe Salvi), kasih (yang dibahas dalam Deus Caritas Est), dan iman, yang menjadi fokus dalam Lumen Fidei.
Laudato Si dikeluarkan Paus Fransiskus pada 24 Mei 2015. Nama ensiklik ini diambil dari bahasa Italia yang berarti “Terpujilah Engkau,” sebuah frasa yang terinspirasi dari Kidung Saudara Matahari karya Santo Fransiskus dari Assisi, yang memuliakan Tuhan melalui ciptaan-Nya. Ensiklik itu menggarisbawahi keprihatinan Paus Fransiskus terhadap masalah lingkungan dan krisis ekologi yang sedang dihadapi dunia saat ini. Paus Fransiskus menulis Laudato Si sebagai tanggapan terhadap meningkatnya kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Paus menekankan, perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan merupakan akibat dari pola konsumsi yang tidak berkelanjutan dan ketidakadilan sosial.
Fratelli Tutti: ensiklik Fratelli Tutti, berarti “Semua Saudara,” dikeluarkan Paus Fransiskus pada 3 Oktober 2020. Nama ensiklik itu diambil dari Santo Fransiskus dari Assisi, yang sering menyebut sesama ciptaan sebagai “saudara” dalam semangat persaudaraan universal. Fratelli Tutti ditulis di tengah pandemi Covid-19, yang memperlihatkan ketidaksetaraan global dan pentingnya solidaritas antarbangsa dan antarmanusia.
Ensiklik itu menjadi refleksi mendalam Paus Fransiskus tentang persaudaraan dan persahabatan sosial dalam konteks dunia modern yang penuh konflik, ketidakadilan, dan perpecahan. Paus mengajak seluruh umat manusia, terlepas dari latar belakang agama atau keyakinan, untuk membangun dunia yang lebih damai dan adil melalui dialog, kerja sama, dan pengertian satu sama lain.
Dalam Fratelli Tutti Paus Fransiskus menguraikan tentang persaudaraan dan bagaimana hal itu bisa diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan sosial, ekonomi, dan politik. Paus Fransiskus mengajak semua pemimpin agama untuk bekerja sama dalam mengatasi perpecahan dan konflik, serta untuk mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan yang mengikat semua umat beragama. Ia juga memperingatkan agar agama tidak disalahgunakan untuk membenarkan kekerasan atau intoleransi, tetapi sebaliknya menjadi sumber inspirasi bagi persatuan dan kerukunan.
Banyak orang memuji ensiklik itu sebagai panggilan moral yang kuat untuk dunia yang lebih adil dan damai, terutama di saat dunia menghadapi krisis global seperti pandemi Covid-19. Pemimpin agama, aktivis sosial, dan politisi dari berbagai latar belakang menyambut baik ajakan Paus Fransiskus untuk memperkuat persaudaraan dan solidaritas.
Dunia berduka
Tidak hanya umat Katolik, dunia berduka atas wafatnya Paus Fransiskus. Dari Indonesia: di Jakarta, Presiden Prabowo dalam siaran pers khusus menyampaikan duka yang mendalam atas wafatnya Paus Fransiskus yang berkunjung ke Jakarta bulan September 2024.
Presiden kelima RI, Megawati Soekarnoputri mengatakan Paus Fransiskus bukan hanya sekadar tokoh agama Katolik. “Beliau bukan saja tokoh agama bagi umat Katolik, namun juga bagi dunia yang dikagumi karena pemikiran dan kiprah beliau dalam membangun persaudaraan dan kesetaraan antar umat manusia se-dunia,” tulis Megawati dalam sebuah surat yang ditujukan kepada Duta Besar Takhta Suci Vatikan untuk Indonesia dan ASEAN, Piero Pioppo, dikutip Senin.
Italia: Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, menyampaikan perasaan kesedihan yang mendalam atas kepergian Paus. Ia mengenang persahabatan dan ajaran Paus yang tak pernah berhenti, bahkan di saat-saat sulit dan penuh penderitaan. “Kami mengucapkan selamat tinggal kepada Bapa Suci dengan hati yang penuh kesedihan,” kata Meloni, seperti yang dilansir Reuters.
Amerika Serikat: Presiden AS Donald Trump menyampaikan duka yang mendalam. “Beristirahatlah dalam damai Paus Fransiskus! Semoga Tuhan memberkatinya dan semua yang mencintainya!”. Trump memerintahkan bendera AS dikibarkan setengah tiang di Gedung Putih, dan di gedung-gedung federal di seluruh dunia. Ia akan hadiri Pemakaman Paus Fransiskus.
Iran: Presiden Iran, yang merupakan negara dengan mayoritas Muslim, menyampaikan belasungkawa kepada umat Kristen global. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqaei, menyampaikan, “Saya menyampaikan belasungkawa kepada semua umat Kristen di seluruh dunia.”
Perancis: Presiden Prancis Emmanuel Macron mengenang Paus Fransiskus sebagai pemimpin yang selalu berpihak pada mereka yang paling rentan. “Paus Fransiskus selalu menunjukkan kepedulian terhadap yang paling rapuh dan melakukannya dengan rendah hati,” kata Macron.
Israel: Di Israel, Presiden Isaac Herzog memuji Paus Fransiskus sebagai pria yang beriman dan memiliki belas kasih tak terbatas. “Ia mendedikasikan hidupnya untuk mengangkat derajat kaum miskin dan menyerukan perdamaian di dunia yang sedang dilanda masalah,” ujarnya.
Belanda: Dari Belanda, Perdana Menteri Dick Schoof mengatakan jasa Paus akan dikenang sebagai seorang pemimpin yang selalu mengangkat isu-isu penting dengan tindakan belas kasih. “Kami mengenangnya dengan penuh rasa hormat,” kata Schoof.
Jerman: Pemimpin Jerman, Friedrich Merz, menambahkan bahwa Paus Fransiskus akan dikenang karena komitmennya yang tak kenal lelah terhadap anggota masyarakat yang paling lemah.
Parlemen & Komisi Uni Eropa: Di Eropa, Presiden Parlemen Eropa Roberta Metsola dan Presiden Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen juga mengungkapkan rasa duka cita yang mendalam. Metsola menyebut Paus Fransiskus sebagai “Paus Rakyat” yang dikenang karena cintanya pada kehidupan, perdamaian, dan keadilan sosial. “Dia menginspirasi jutaan orang, jauh melampaui Gereja Katolik, dengan kerendahan hati dan cintanya yang begitu murni bagi mereka yang kurang beruntung,” tulis Von der Leyen.
Gaza dan Palestina: Bagi warga Palestina, terutama di Gaza, kepergian Paus dirasakan sangat mendalam. Paus dikenal sebagai salah satu pemimpin paling vokal yang selalu mengecam perang di Gaza dan menyerukan gencatan senjata. Komunitas Kristen di Gaza mengenang Paus sebagai pemimpin yang selalu mendengarkan mereka dan mendukung mereka dalam situasi yang sulit. Paus Fransiskus juga meninggalkan kesan mendalam di kalangan pejabat Katolik dan non-Katolik.
SELAMAT JALAN MENUJU KEABADIAN YANG MULIA PAUS FRANSISKUS. DAMAI BERSAMA PARA KUDUS DI SURGA.
Dikutip dari berbagai sumber.
by admin | Apr 21, 2025 | BUKU, POPULER
by admin | Nov 28, 2024 | BERITA, BERITA TERBARU, POPULER
Hampir dipastikan, Ria Norsan dan Krisantus Kurniawan terpililh sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2024-2029. Begitu juga para bupati dan walikota di kabupaten dan kota di Kalimantan Barat. Berdasarkan data final quick count dari berbagai Lembaga survei, berikut perolehan suara Pilgug dan Pilkada/wako di Kalimantan Barat yang digelar serentak tanggal 27 November 2024.

Hasil Quick Count Pilgub Provinsi Kalbar Tahun 2024 (27.11.2024). (1).H. SUTARMIDJI, S.H., M.Hum. – Irjen Pol (Purn) Dr. Drs. H. DIDI HARYONO, S.H., M.H. : 927.448 (37,61 %); (2).Drs. H. RIA NORSAN, M.M., M.H. – KRISANTUS KURNIAWAN, S.IP., M.Si.: 1.293.375 (52,45 %); (3). MUDA MAHENDRAWAN, S.H. – Ir. JAKIUS SINYOR : 245.205 (9,94 %). Total data masuk masuk 9.916 dari 10.451 TPS (94,88%).
Bupati Sambas : 1.FAHRUR ROFI, S.IP., M.H.Sc – Dr. SABIB, ST., MT : 125.435 (43,50%); 2. H. SATONO, S.Sos.I., MH – H. HEROALDI DJUHARDI ALWI, ST., MT : 142.491 (49,42%); 3. MISNI SAFARI, SP., ME – H. MARIADI, SE., MM : 20.420 (7,08%). Data Masuk 1.005 dari 1.007 TPS (99,80%)
Bupati Mempawah: Dr. Ir. MARDAN ADIJAYA – BUKHORI : 52.901 (44,93%); 2. Hj. ERLINA, S.H., M.H. – JULI SURYADI B, S.H., M.Si. : 64.840 (55,07%). Data Masuk 476 dari 476 TPS (100%)
Bupati Sanggau: 1. Drs. YOHANES ONTOT, M.Si. – SUSANA HERPENA, S.Sos. :113.296 (48,52%); 2. Ir. H. JOHN HENDRI, M.Si. – USMAN, S.Sos., M.Si. :71.566 (30,65%); 3. YANSEN AKUN EFFENDY, S.H., M.Si., M.H. – ANDREAS SISEN, S.Hut.:48.636 (20,83%). Data Masuk 1.081 dari 1.103 TPS (98,01%).
Bupati Ketapang: 1.H. FARHAN, S.E., M.Si. – LEONARDUS RANTAN, S.H., M.Sos. :54.648 (23,40%); 2.ALEXANDER WILYO, S.STP., M.Si. – JAMHURI AMIR, S.H. :123.766 (52,99%); 3. JUNAIDI, S.P., M.Si. – SUPRAPTO, S.Pd. :55.163 (23,62%). Data Masuk 923 dari 981 TPS (94,09%).
Bupati Sintang: 1.DIDIT SURAHMAYADI, S.E., M.A.P. – MELKIANUS, S.Sos. :77.142 (32,47%); 2.HERI JAMBRI, S.H., M.Si. – SUPRANTO, S.T., M.A.P. :63.829 (26,86%); 3. GREGORIUS HERKULANUS BALA – FLORENSIUS RONNY :96.641 (40,67%). Data Masuk 976 dari 1.038 TPS (94,03%).

Fransiskus Diaan-Sukardi, unggul quick count Kapuas Hulu
Bupati Kapuas Hulu: 1.FRANSISKUS DIAAN, S.H., M.H. – SUKARDI, S.M. :73.332 (51,02%); 2. Ir. WAHYUDI HIDAYAT, S.T. – OKTAVIANUS, S.E. :70.406 (48,98%). Data Masuk 622 dari 685 TPS (90,80%).
Bupati Bengkayang: 1.SEBASTIANUS DARWIS, S.E., M.M. – Drs. H. SYAMSUL RIZAL :76.242 (71,10%); 2. Kolom Kosong : 30.985 (28,90%). Data Masuk 602 dari 615 TPS (97,89%).

Darwis-Rizal melawan kotak kosong
Bupati Landak: 1.dr. KAROLIN MARGRET NATASA, M.H. – ERANI, S.T., M.T. :105.839 (54,84%); 2. HERI SAMAN, S.H., M.H. – VINSENSIUS, S.Sos., M.M.A. :87.169 (45,16%). Data Masuk 884 dari 1.003 TPS (88,14%).
Bupati Sekadau: 1.ARON, S.H. – SUBANDRIO, S.H., M.H. :60.738 (61,98%); 2. MARTINUS SUDARNO, S.H. – MUHAMMAD, S.Sos., M.H. :37.264 (38,02%);. Data Masuk 388 dari 489 TPS (79,35%)
Bupati Melawi: 1.Drs. KLUISEN – IIF USFAYADI, S.T., M.Sos. : 37.866 (32,84%); 2. H. DADI SUNARYA USFA YURSA – MALIN, S.H. :77.436 (67,16%). Data Masuk 453 dari 527 TPS (85,96%)
Bupati Kayong Utara: 1.H. EFFENDI AHMAD, S.Pd.I., M.Sos. – SARTONO, S.P. :26.347 (47,57%); 2. ROMI WIJAYA, S.Sos., M.Si. – AMRU CHANWARI :29.041 (52,43%). Data Masuk 205 dari 206 TPS (99,51%)
Bupati Kubu Raya: 1. ROSALINA, A.Md.Kep. – H. MARIJAN, S.Pd., M.Kes. :18.840 (5,98%); 2. H. SUJIWO, SE., M.Sos. – SUKIRYANTO, S.Ag. :160.686 (51,01%); 3. H. RUSMAN ALI, S.H. – MOCHAMMAD FACHRI, S.Sos., M.A.P. :135.465 (43,01%). Data Masuk 1.081 dari 1.090 TPS (99,17%).

Edi-Bahasan, Incumbent yang unggul quick count
Walikota Pontianak: 1. Ir. H. EDI RUSDI KAMTONO, M.M., M.T. – BAHASAN, S.H. :200.993 (80,00%); 2. Dr. H. MULYADI, M.Si. – HARTI HARTIDJAH, S.E., S.H., M.Th., M.Kn. :50.253 (20,00%). Data Masuk 895 dari 904 TPS (99,00%).
Walikota Singkawang: 1. H. ABDUL MUTALIB, S.E., M.E. – Drs. H. IRWAN, M. Si. : 20.101 (20,97%); 2. TJHAI CHUI MIE, S.E., M.H. – MUHAMMADIN, S.E., M.H. :52.253 (54,52%). 3. Dr. H. ANDI SYARIF T.U.W., S.T., M.T. – Ir. H. YUSNITA FITRIADI :23.484 (24,50%). Data Masuk 327 dari 327 TPS (100%).
Selamat kepada Gubernur dan bupati/walikota terpilih.
by admin | Sep 30, 2024 | BERITA, BERITA TERBARU
Credit union akhir-akhir ini semakin berkembang; di sisi lain masih ada credit union milik komunitas, paroki dan sebagainya yang stagnan pertumbuhannya. CU yang terus berkembang tersebut pun sebagian kecil ditengarai sebagian sudah mulai ada yang keluar dari nilai, prinsip dasar credit union dalam tata kelolanya. Padahal jika CU tersebut bangkrut maka anggotalah yang menjadi korbannya.
Menyadari hal tersebut, Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Konfrensi Waligereja Indonesia (PSE-KWI) sebagai inisiator masuknya CU ke Indonesia berinisiatif mengumpulkan para aktivis CU dari seluruh Indonesia.

Peserta lokakarya
Bertempat di Wisma Samadi, Klender Jakarta Timur tanggal 23-25 September 2024, Komisi PSE-KWI bekerja sama sejumlah universita Katolik (antara lain Widya Mandala Surabaya dan Atma Jaya Jakarta) mengadakan lokakarya bersama komisi PSE Keuskupan seluruh Indonesia, perwakilan CU primer, CU sekunder dan sekunder nasional. PUSKOPCUINA sebagai federasi nasional credit union yang diwakili Edi Petebang menghadiri kegiatan tersebut.
Menurut Pastor Eko dari Komisi PSE KWI, lokakarya ini bertujuan memperkuat aspek spiritualitas dan tata kelola credit union. Hari pertama berisi perkenalan dan kontrak belajar. Hari kedua berisi tentang filosofi dasar credit union yang disampaikan Mgr. Petrus Turang, uskup emeritus yang juga pernah Ketua PSE KWI. Mgr. Turang menekankan pentingnya spiritualitas dan focus dalam pengembangan CU. “CU harus focus memberdayakan, meningkatkan kualitas hidup anggota di suatu wilayah tertentu. Jika ada CU yang membuka cabang jauh dari wilayah awalnya dan tidak membawa perubahan peningkatan taraf hidup masyarakat disana tetapi sudah membuka kantor cabang kemana-mana, maka harus dihentikan, harus digergaji, di chainsaw,”ujarnya.
Materi lain adalah dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Direktorat Jendral Pajak, manajemen resiko dan konsultan pajak. Hari ketiga berisi tentang tata Kelola credit union sesuai standar gerakan CU Asia (ACCU) disampaikan oleh P. Fredy Rante Taruk, Direktur Karitas KWI. P. Fredy yang juga penasihat PUSKOPCUINA memaparkan nilai, filosofi dan beberapa hal teknis tentang tata Kelola credit union yang menyangkut 3 aspek utama: tata Kelola internal, tata Kelola individual dan tata Kelola eksternal. “Jika tata Kelola ini dilaksanakan dan dicapai secara maksimal, maka ada jaminan credit union akan sehat dan berkelanjutan,”jelasnya.
Dalam lokakarya ini pertama kalinya diperkenalkan modul pendidikan tentang spiritualitas credit ujion yang dipkrakarsai Komisi PSE KWI dan disusun oleh Pastor Antonius Sumarwan, SJ. Modul berisi 8 pokok bahasan ini mengajak dan menyadarkan kembali para aktivis credit union agar jangan melupakan nilai-nilai, prinsip, dan hal-hal mendasar dalam mengelola credit union.
Lokakarya menyepakati sejumlah hal terkait dengan tata Kelola credit union dan akan ada pertemuan-pertemuan lanjutan baik di KWI (nasional), tingkat keuskupan maupun paroki. Seemua pihak sepakat untuk terus mempraktikkan tata Kelola CU yang standar dengan Kembali pada spirit mengapa CU didirikan seperti yang disampaikan pendiri CU Fredrich William Raiffeisen.
Dalampertemuan30 orang yang ingin membentuk CU Raiffeisen menyatakan:“…Saya tidak bisa memberikan keajaiban yang akan membebaskan Anda dari kemiskinan tanpa Upaya dari Anda sendiri. Tapi ada satu cara yang saya tidak tahu apakah orang bisa mengikutinya.Yakni, jika semua bekerja sama untuk kebaikan bersama, maka mereka akan dapat mencapai tujuan itu: kebebasan dari keinginan. Kita harus mulai dari prinsip dasar dengan meningkatkan kesejahteraan fisik dan kesejahteraan spiritual, juga akan mendapatkan keuntungan. Dengan memberikan pinjaman kepada anggota yang membutuhkan dan yang rajin di komunitas mereka. Mereka akan memampukan diri untuk menikmati buah dari hasil usaha dan melakukan penghematan, dari pada bekerja untuk kepentingan rentenir. Dengan cara ini, mereka akan terbebas dari segala bentuk bantuan dari luar, yang sesaat memang mengurangi penderitaan mereka. Namun semua itu membuat mereka akan Kembali lagi dalam kemiskinan tetapi dengan konsekuensi yang lebih pahit”.
Semoga para aktivis credit union senantiasa menyadari, menginternalisasi dan melaksanakan semangat dasar Gerakan credit union Raiffeisen.***
by admin | Sep 3, 2024 | BERITA, BERITA TERBARU, POPULER
Penulis: Edi Petebang, putra Dayak Pesaguan
“Kalau kalian mau punya keturunan, pergilah mengayau ke Arut, Kalimantan Tengah, ke arah matahari terbit. Potong kepala Patih Arut. Bawa kepalanya utuh dan segar sebagai ganti kalian untuk tumbal menganjan,”perintah Ukat Bebodah kepada Sesulor dan Sesileh. Memotong garong Peristiwa ini selalu dikenang masyarakat Dayak Pesaguan yang menghuni daerah aliran sungai Pesaguan dan anak-anaknya di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat dalam setiap ritual menganjan.
Menganjan adalah ritual agar arwah masuk ke serugo tujoh sebayan dalam (surga, bahasa Pesaguan). “Dalam ritual menganjan, masyarakat Dayak Pesaguan diingatkan akan pengorbanan jiwa raga orang Tuluyan yang selalu dijadikan tumbal dalam setiap ritual menganjan,”jelas Gemalo Nius, kepala adat kampung Serengkah Kanan (55 tahun).
Menganjan dilakukan pada saat kematian atau beberapa tahun kemudian. Jika saat kematian, maka menganjan dilakukan jika pembuatan sandung atau tambak telah selesai. Artinya butuh waktutiga atau empat hari. Tambak adalah bangunan bujur sangkar dengan ukiran motif di dindingnya yang diletakkan di pusara makam dan di bagian atasnya diberi atap.
Sandung tempat abu jenasah yang dibakar. Abu ini disimpan dalam tempayan kecil dan diletakkan di atas tiang belian berdiameter 20-30cm yang berukiran setinggi 3-4 meter. “Secara sederhana makna menganjan adalah ungkapankemenangan atas maut.Dengan menganjan dimaksudkan agar suasanaduka dalam masa berkabung diganti dengan suasanariang gembira.
Menganjan juga untuk melepaskansemacam ikatan yang disebut pantang pamali.Setelah menganjan orang yang berkabung boleh bersukaria, termasuk boleh menikah lagi,”jelas Nius yang memimpin seluruh prosesi menganjan.
Membersihkan “kepala” Menurut keyakinan orang Dayak Pesaguan arwahkeluarga yang meninggal tersebut dapat masuk kesebayantujoh serugo dalam,ke hujong ke penawaian, kesiu’ kependondaman, be’arai cetohu bayu,benasicetohu basi, beborascemenutu, bejolu cebekarang.
Artinya tempat dimana air tidak membusuk, nasi tidak pernah basi,beras tidak perlu menumbuk, dapat lauk-pauk tidak perluberburu; suatu tempat yang digambarkan sebagai tempatyang abadi, kebahagiaan kekal. Ritual menganjan yang terbaru terjadi di Kampung Serengkah Kanan, Kecamatan Tumbang Titi, Kabupaten Ketapang, 450 km Selatan Kota Pontianak tanggal 6-8 Juli 2012.

Warga mengambil buah jarau
Ada empat orang yang dikanjakan, yakni almarhum Gando Bakah Berandong Marsianus Silan, Salesta Ita, Petrus dan Dalmasius Itan. Silan adalah kepala adat kampung Serengkah Kanan selama sembilan tahun; sedangkan Ita, Petrus dan Itan adalah anaknya. Tuan rumah mengundang warga dari 9 kampung. Karena itulah, ribuan orang berkumpul di sana. Penulis mengikuti seluruh prosesi ritual ini.
Ritual inti menganjan dimulai dengan ritual memotong batang kayu garong. Sebanyak 20 orang wakil ansang (sebutan untuk tamu) memotong kayu garung yang dipasang melintang di tengahjalan di ujung kampong. Dentuman empat laras senapan lantak, letusan puluhan petasan, pekikan puluhan ansang menandai putusnya tiang pembatas ansang dan tuan rumah itu. Empat pasang penari datang menjemput ansangdan mengiringnya sampai ke tempat acara yang dinamakan tetarok.
Di sini para tamu dijamu dengan sirih pinang dan tuak, minuman beralkohol sekitar 25% yang terbuat dari beras ketan diberi ragi. Setelah para tamu (ansang) diterima di tetarok, dilaksanakan lagi sejumlah ritual menganjan. Sebelum tamu datang juga telah dilaksanakan serangkaian ritual. Ada 14 ritual yang dilaksanakan selama proses menganjan. Yakni (1). memberi makan tiang garong (2). membersihkan kepala kayau (3).pemberi makan roh-roh (4). dongeng asal-usul kanjan (5). penyerahan jarau (6). memotong garong (7). menyerahkan pelelawat (8).mengambil salib ke kuburan (9). memutus bulen (10). menebang jarau (11). mengembalikan salib ke kuburan (12). memotong kasau (13). bepalit parang beliung (14). piring beras.
Dari 14 prosesi ritual tersebut, yang paling menarik perhatian warga dan paling sakral adalah ritual menumang kepala, sangan sesulor sesileh, memotong garong dan memantang jarau. Menumang kepalaadalah membakar kepala di atas tungku tumang (tungku berkaki tiga). Jaman pengayauan dulu, yang dibakar kepala manusia hasil mengayau.
Meskipun orang Dayak Pesaguan tidak ada tradisi mengayau, namun jika ada pengayau yang menyerang maka diadakan perlawanan untuk membela diri. Kepala kayau merupakan simbol kemenangan. Kini karena tidak ada pengayauan lagi, maka yang dibakar buah kelapa hijau yang muda. Setelah ditumang, buah kelapa pengganti kepala itu diberi makan dengan seekor ayam, abu dingin, nasi dingin.
Selanjutnya buah kelapa itu diberi lobang, airnya dibuang diganti dengan tuak. Tuak di dalam batok kelapa ini diminum secara bergiliran kepada semua yang hadir. Selesai dipakai minum, kelapa muda ini dibungkus dengan kain dari kulit kayu berwarna kuningdan dipegang sambil dibawa menari. Tarian ini disebut tari menimang kepala.
Tarian ini diiringi musik teranjak, yakni gamalan cepat dan bersemangat. Pengorbanan Orang Tuluyan Setelah menumang kepala, pemimpin ritual menceritakan dongeng sesulor sesileh. Di dalam dongeng inilah kita bisa mengetahui makna menganjan. Konon, dulu ada dua bersaudara bernama Sesulor dan Sesileh. Mereka adalah orang keturunan tuluyan. Orang tuluyan adalah kelompok dalam masyarakat Dayak Pesaguan yang ditakdirkan untuk dijadikan korban dalam setiap upacara menganjan. Mereka disiksa dengan tombak dan mandau, lalu dibunuh dan menjadi tumbal pada dasar tiang sandung atau tambak.
Keluarga besar almarhum berdoa di depan salib Untuk menghapus takdir ini, pada jaman UkotKebodah (pendiri kampung Serengkah), Sesulor dan Sesileh ini diminta mengayau kepala adat kampung Arut, Kalteng.
Konon kepala adat Arut ini sangat sakti dan bermuka tiga. Kepala itu harus utuh karena Ukot Kebodah mau melihat muka tiga tersebut. Dua bersaudara inipun setuju dan berhasil mengayau kepala adat Arut. Karena jarak Kalteng-Serengkah jauh, sekitar seminggu jalan hutan, agar tidak busuk, kepala itu dikuliti dan dikeringkan.
Sesampai di kampung Serengkah, keduanya disambut seluruh warga. Namun sayang, karena kepalanya tidak utuh, keduanya malah dituduh mencuri kepala orang dari pekuburan. Sesulor dan Sesileh tetap dikorbankan. Sebelum dibunuh mereka berpesan, “Jika di kaki kuburan tumbuh pohon keriato dan di kepala tumbuh pohon kumpang, berarti yang kami bawa memang benar,”ujar mereka.
Tiga hari setelah dibunuh dan dikubur, orang Pesaguan kaget bukan main karena di atas pusara Sesulor Sesileh tumbuh pohon keriata dan kumpang. Masyarakat Pesaguan pun akhirnya mengakui bahwa tengkorak kepala yanag dibawa Sesulor Sesileh adalah kepala adat Arut. Untuk mentaati perjanjian dengan Sesulor Sesileh, maka sejak itulah orang Pesaguan tidak lagi mengorbankan kepala manusia dalam ritual menganjan.
Sebagai gantinya adalah babi dan ayam. Menurut Gemalo Nius, sebagai wujud penghargaan orang Pesaguan kepada keturunan orang tuluyan, maka jika mereka meninggal akan disandung. Sandung adalah kuburan untuk abu jenasah. Jasad dibakar, lalu abunya disimpan dalam tempayan kecil dan diletakkan di atas tiang kayu belian setinggi 3-4 meter. Menurut Gemalo Nius, Orang Tuluyan ini bukanlah budak/kuli, tetapi orang yang memang dari awal ditakdirkan untuk dikorbankan jika ada ritual menganjan.
Untuk mengubah nasib, di beberapa kampung Orang Tuluyan ini melarikan diri/ pindah ke daerah lain. Misalnya, orang Tuluyan dari Kalteng yang lari dan membuka kampung Beringin, orang Tuluyan di Lemandau, Kalteng yang melarikan diri dan kini menjadi penduduk Kampung Petobang; orang Tuluyan dari Serengkah lari ke daerah Kengkubang (Jelayan-Natai Panjang), Batu Tajam, Pengatapan, Sungai Melayu dan sekitarnya.

Bedansai, Tarian masal menganjan
Itulah sebabnya di Jelayan, Natai Panjang, Batu Tajam, Pengatapan, Sungai Melayu dan kampung lainnya ada ritual menyandung orang mati. “Dengan ritual menganjan, orang Pesaguan diingatkan akan pengorbanan jiwa raga orang Tuluyan. Menganjan, terutama menyandung itu adalah semacam penebusan dosa-dosa orang Pesaguan kepada Orang Tuluyan,”jelas Nius. Memotong Garong, menebang jarau Untuk menyambut tamu maka diadakan ritual khusus yang disebut memotong garong.
Garong adalah nama jenis kayu yang batangnya ringan jika kering dan bisa dibuat rakit. Batang garong ini dipasang melintang di pintu gerbang khusus yang dibuat, sekitar 100 meter dari tempat acara. Sebelum masuk ke tempat acara, seluruh tamu disambut. Empat pasang penari datang menjemput ansang, sebutan bagi para tamu yang dijemput. Mula-mula seorang wakil keluarga yang menjemput akan bertanya kepada ansang tersebut. Bagian ini seru sekali karena antara tamu dan tuan rumah saling berbalasan dengan nada bicara seperti orang marah. Sambil bicara, tetamu disuguhi minum tuak dalam bambu yang disebut lumpang.
bedansai menganjan Garong kemudian dipotong oleh ansang secara bergantian. Ada sekitar 20 orang yang memotong garung. Yang memotong terakhir adalah domong adat ansang yang dituakan. Setelah garung putus, para tamu undangan diiringi oleh para penyambut berjalan menuju natar dan diterima di tetaruk.
Musik kanjan terus menerus ditabuh. Di sini para tamu dijamu dengan sirih pinang, minuman tuak dan makan. Ritual berikutnya adalah menebang jarau. Inilah acara yang ditunggu-tunggu anak-anak karena mereka akan diberi buah-buah jarau. Meski sebutannya menebang jarau, namun sesungguhnya tidak ditebang benaran.
Batang jarau dan buah-buahnya yang semula berdiri, akan dirobohkan setelah sebelumnya dibacakan mantra-mantra menebang jarau. Buahnya dikumpulkan—dan sebagian diberikan kepada anak-anak maupun orang yang dekatnya—tuak dalam tiang jarau akan diminumkan kepada tamu ataupun orang yang menebang jarau. Buah jarau ini kemudian akan dibagi. Ada dua jenis jarau, jarau pemalian (dari tuan rumah) dan jarau dari tamu. Jarau pemalian ini lebih besar dan lebih banyak buahnya. Di jarau pemalian, pada bagian bawahnya ada tempayan yang juga diisi tuak. Banyaknya jarau tergantung terkenal tidaknya orang yang dikanjankan; bisa mencapai ratusan batang.
Menebang jarau Menurut Gemalo Nius, adat jarau bukan merupakan adat asli Pesaguan tetapi dibeli dari Beringin. Orang Beringin membelinya secara adat dari Dayak Delang di Kalimantan Tengah karena jarak yang dekat dan hubungan yang baik antara orang Beringin dan OrangDelang. Adatnya adalah: sebuah tajau penuh tuak, piring delapan keping, babi seekor. “Selain jarau, adat yang dibeli dari Kalteng adalah menganjan di rumah.
Adat menganjan asli orang Pesaguan di tanah, tidak di rumah,”jelas Nius. Menganjan ditutup dengan adat pepiring beras.Yakni acara perpisahan dan pemberian tanda ucapan terima kasih atas semua kehadiran serta bantuan dari para tamu.“Harapannya rasa kepuasan dan kebahagian memenuhi kehidupan kami keluarga besar Bapak dan adik-adik yang dikanjanan. Kami puas dan bahagia karena telah menyelenggarakan acara penghormatan kepada Bapak dan adik-adik.
Kami percaya mereka sudah berbahagia di Sebayan Tujuh Serugo Dalam,”jelas Sunyan, anak almarhum Silan. Selama pelaksanaan 14 ritual menganjan tersebut musik gamalan kanjan tidak pernah berhenti. Puluhan orang, umumnya pemuda, secara bergiliran selama tiga hari siang dan malam menabuh gamalan. Ada tiga jenis gamalan, yakni gamalan biasa, gamalan kanjan dan gamalan tipaq. Dalam masyarakat Dayak umumnya, gamalan tipaq hanya dimainkan kalau ada kematian. Terancam punah Masyarakat Dayak Pesaguan mayoritas bermukim di pinggir Sungai Pesaguan dan anak-anak sungainya.
Berdasarkan buku Sujarni Aloy, dkk. “Mozaik Dayak: Keberagaman Subsuku Dan Bahasa Dayak Di Kalimantan Barat’, Institut Dayakologi (2008), ada 7 kelompok Pesaguan. YaituBatu Tajam, Kekura’, Kengkubang, Marau, Pesaguan Hulu, Pesaguan Kanan, Sepauhan. Mereka bermukim di wilayah 3 kecamatan, yakni Tumbang Titi, Sungai Melayu dan Jelai Hulu. Pelan tapi pasti ritual menganjan ini tergerus jaman dan makin langka.


Pemberkakatan salib secara Katolik
Selain karena biayanya mahal, juga bahan pendukung ritual ini semakin sulit dicari karena isi alam makin habis. Mahal karena dalam setiap pelaksanaan ritual menganjan yang besar, seperti menganjan Marsianus Silan (6-8/7/2012) menurut Sunyan, anak tertua almarhum, diperlukan 25 ekor babi, 200 ekor ayam, ratusan kilo beras, ratusan kilo sayur dan 500 liter tuak dan arak; belum biaya lainnya. Bahan yang diperlulan untuk ritual menganjan menurut Gemalo Nius terdiri dari puluhan jenis pohon buah-buahan, sayuran dan tanam tumbuh lainnya.
“Sebagian bahan itu kini makin sulit dicari, apalagi seperti bulu burung ruai—burung khas Kalimantan yang indah bulunya. Ini tidak terlepas dari makin menyempitnya areal perladangan dan hutan-hutan karena dibabat untuk areal perkebunan kelapa sawit, hutan tanaman industri dan pertambangan,”jelasnya. Menurut Nius, kebudayaan Pesaguan dipengaruhi budaya Jawa, agama Hindu, Budha, Islam dan Katolik.
Tahun 1918 misionaris Kapusin mulai mendirikan sekolah Katolik di Serengkah. Agama Katolik mempunyai peranan penting dalam perkembangan manusia dan kebudayaa Dayak Pesaguan era dulu dan kini. Hari-hari ini tantangan terbesar adalah gencar sekali rencana masuknya sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri (HTI) di kampung-kampung Dayak Pesaguan.
Ada yang menerima, ada yang dengan tegas menolak. Banjir bandang yang memutuskan jembatan di akibat kampung Beringin dan Batu Beransah dan merendam rumah, kebun, ternak warga diyakini warga akibat habisnya hutan di sekitar kampung Beringin (kampung paling udik Sungai Pesaguan) dan diganti dengan kebun sengon (HTI).***
Artikel ini dimuat di koran The Jakarta Post tangga 31 Oktober 2012.