Norsan-Kris Gubernur Kalbar; Bupati/wako Petahana Tak Tertandingi

Hampir dipastikan, Ria Norsan dan Krisantus Kurniawan terpililh sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2024-2029. Begitu juga para bupati dan walikota di kabupaten dan kota di Kalimantan Barat. Berdasarkan data final quick count dari berbagai Lembaga survei, berikut perolehan suara Pilgug dan Pilkada/wako di Kalimantan Barat yang digelar serentak tanggal 27 November 2024.

Hasil Quick Count Pilgub Provinsi Kalbar Tahun 2024 (27.11.2024). (1).H. SUTARMIDJI, S.H., M.Hum. – Irjen Pol (Purn) Dr. Drs. H. DIDI HARYONO, S.H., M.H. : 927.448 (37,61 %); (2).Drs. H. RIA NORSAN, M.M., M.H. – KRISANTUS KURNIAWAN, S.IP., M.Si.: 1.293.375 (52,45 %); (3). MUDA MAHENDRAWAN, S.H. – Ir. JAKIUS SINYOR : 245.205 (9,94 %). Total data masuk masuk 9.916 dari 10.451 TPS (94,88%).

Bupati Sambas : 1.FAHRUR ROFI, S.IP., M.H.Sc – Dr. SABIB, ST., MT : 125.435 (43,50%); 2. H. SATONO, S.Sos.I., MH – H. HEROALDI DJUHARDI ALWI, ST., MT : 142.491 (49,42%); 3. MISNI SAFARI, SP., ME – H. MARIADI, SE., MM : 20.420 (7,08%). Data Masuk 1.005 dari 1.007 TPS (99,80%)

Bupati Mempawah: Dr. Ir. MARDAN ADIJAYA – BUKHORI : 52.901 (44,93%); 2. Hj. ERLINA, S.H., M.H. – JULI SURYADI B, S.H., M.Si. : 64.840 (55,07%). Data Masuk 476 dari 476 TPS (100%)

Bupati Sanggau: 1. Drs. YOHANES ONTOT, M.Si. – SUSANA HERPENA, S.Sos. :113.296 (48,52%); 2. Ir. H. JOHN HENDRI, M.Si. – USMAN, S.Sos., M.Si. :71.566 (30,65%); 3. YANSEN AKUN EFFENDY, S.H., M.Si., M.H. – ANDREAS SISEN, S.Hut.:48.636 (20,83%). Data Masuk 1.081 dari 1.103 TPS (98,01%).

Bupati Ketapang: 1.H. FARHAN, S.E., M.Si. – LEONARDUS RANTAN, S.H., M.Sos. :54.648 (23,40%); 2.ALEXANDER WILYO, S.STP., M.Si. – JAMHURI AMIR, S.H. :123.766 (52,99%); 3.          JUNAIDI, S.P., M.Si. – SUPRAPTO, S.Pd. :55.163 (23,62%). Data Masuk 923 dari 981 TPS (94,09%).Alek-Jamhuri, menangi Pilkada Ketapang

Bupati Sintang: 1.DIDIT SURAHMAYADI, S.E., M.A.P. – MELKIANUS, S.Sos. :77.142 (32,47%); 2.HERI JAMBRI, S.H., M.Si. – SUPRANTO, S.T., M.A.P. :63.829 (26,86%); 3. GREGORIUS HERKULANUS BALA – FLORENSIUS RONNY :96.641 (40,67%). Data Masuk 976 dari 1.038 TPS (94,03%).

Fransiskus Diaan-Sukardi, unggul quick count Kapuas Hulu

Bupati Kapuas Hulu: 1.FRANSISKUS DIAAN, S.H., M.H. – SUKARDI, S.M. :73.332 (51,02%); 2.     Ir. WAHYUDI HIDAYAT, S.T. – OKTAVIANUS, S.E. :70.406 (48,98%). Data Masuk 622 dari 685 TPS (90,80%).

Bupati Bengkayang: 1.SEBASTIANUS DARWIS, S.E., M.M. – Drs. H. SYAMSUL RIZAL :76.242 (71,10%); 2. Kolom Kosong : 30.985 (28,90%). Data Masuk 602 dari 615 TPS (97,89%).

Darwis-Rizal melawan kotak kosong

Bupati Landak: 1.dr. KAROLIN MARGRET NATASA, M.H. – ERANI, S.T., M.T. :105.839 (54,84%); 2. HERI SAMAN, S.H., M.H. – VINSENSIUS, S.Sos., M.M.A. :87.169 (45,16%). Data Masuk 884 dari 1.003 TPS (88,14%).

Bupati Sekadau: 1.ARON, S.H. – SUBANDRIO, S.H., M.H. :60.738 (61,98%); 2. MARTINUS SUDARNO, S.H. – MUHAMMAD, S.Sos., M.H. :37.264 (38,02%);. Data Masuk 388 dari 489 TPS (79,35%)

Bupati Melawi: 1.Drs. KLUISEN – IIF USFAYADI, S.T., M.Sos. : 37.866 (32,84%); 2.  H. DADI SUNARYA USFA YURSA – MALIN, S.H. :77.436 (67,16%). Data Masuk 453 dari 527 TPS (85,96%)

Bupati Kayong Utara: 1.H. EFFENDI AHMAD, S.Pd.I., M.Sos. – SARTONO, S.P. :26.347 (47,57%); 2. ROMI WIJAYA, S.Sos., M.Si. – AMRU CHANWARI :29.041 (52,43%). Data Masuk 205 dari 206 TPS (99,51%)

Bupati Kubu Raya: 1. ROSALINA, A.Md.Kep. – H. MARIJAN, S.Pd., M.Kes. :18.840 (5,98%); 2. H. SUJIWO, SE., M.Sos. – SUKIRYANTO, S.Ag. :160.686 (51,01%); 3. H. RUSMAN ALI, S.H. – MOCHAMMAD FACHRI, S.Sos., M.A.P. :135.465 (43,01%). Data Masuk 1.081 dari 1.090 TPS (99,17%).

Edi-Bahasan, Incumbent yang unggul quick count

Walikota Pontianak: 1. Ir. H. EDI RUSDI KAMTONO, M.M., M.T. – BAHASAN, S.H. :200.993 (80,00%); 2. Dr. H. MULYADI, M.Si. – HARTI HARTIDJAH, S.E., S.H., M.Th., M.Kn. :50.253 (20,00%). Data Masuk 895 dari 904 TPS (99,00%).

Walikota Singkawang: 1. H. ABDUL MUTALIB, S.E., M.E. – Drs. H. IRWAN, M. Si. : 20.101 (20,97%); 2. TJHAI CHUI MIE, S.E., M.H. – MUHAMMADIN, S.E., M.H. :52.253 (54,52%). 3. Dr. H. ANDI SYARIF T.U.W., S.T., M.T. – Ir. H. YUSNITA FITRIADI :23.484 (24,50%). Data Masuk 327 dari 327 TPS (100%).

Selamat kepada Gubernur dan bupati/walikota terpilih.

Mgr. Turang: Ada CU Yang Mesti Digergaji

Mgr. Turang: Ada CU Yang Mesti Digergaji

Credit union akhir-akhir ini semakin berkembang; di sisi lain masih ada credit union milik komunitas, paroki dan sebagainya yang stagnan pertumbuhannya. CU yang terus berkembang tersebut pun sebagian kecil ditengarai sebagian sudah mulai ada yang keluar dari nilai, prinsip dasar credit union dalam tata kelolanya. Padahal jika CU tersebut bangkrut maka anggotalah yang menjadi korbannya.

Menyadari hal tersebut, Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Konfrensi Waligereja Indonesia (PSE-KWI) sebagai inisiator masuknya CU ke Indonesia berinisiatif mengumpulkan para aktivis CU dari seluruh Indonesia.

Peserta lokakarya

Bertempat di Wisma Samadi, Klender Jakarta Timur tanggal 23-25 September 2024, Komisi PSE-KWI bekerja sama sejumlah universita Katolik (antara lain Widya Mandala Surabaya dan Atma Jaya Jakarta) mengadakan lokakarya bersama komisi PSE Keuskupan seluruh Indonesia, perwakilan CU primer, CU sekunder dan sekunder nasional. PUSKOPCUINA sebagai federasi nasional credit union yang diwakili Edi Petebang menghadiri kegiatan tersebut.

Menurut Pastor Eko dari Komisi PSE KWI, lokakarya ini bertujuan memperkuat aspek spiritualitas dan tata kelola credit union. Hari pertama berisi perkenalan dan kontrak belajar. Hari kedua berisi tentang filosofi dasar credit union yang disampaikan Mgr. Petrus Turang, uskup emeritus yang juga pernah Ketua PSE KWI. Mgr. Turang menekankan pentingnya spiritualitas dan focus dalam pengembangan CU. “CU harus focus memberdayakan, meningkatkan kualitas hidup anggota di suatu wilayah tertentu. Jika ada CU yang membuka cabang jauh dari wilayah awalnya dan tidak membawa perubahan peningkatan taraf hidup masyarakat disana tetapi sudah membuka kantor cabang kemana-mana, maka harus dihentikan, harus digergaji, di chainsaw,”ujarnya.

Materi lain adalah dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Direktorat Jendral Pajak, manajemen resiko dan konsultan pajak. Hari ketiga berisi tentang tata Kelola credit union sesuai standar gerakan CU Asia (ACCU) disampaikan oleh P. Fredy Rante Taruk, Direktur Karitas KWI. P. Fredy yang juga penasihat PUSKOPCUINA memaparkan nilai, filosofi dan beberapa hal teknis tentang tata Kelola credit union yang menyangkut 3 aspek utama: tata Kelola internal, tata Kelola individual dan tata Kelola eksternal. “Jika tata Kelola ini dilaksanakan dan dicapai secara maksimal, maka ada jaminan credit union akan sehat dan berkelanjutan,”jelasnya.

Dalam lokakarya ini pertama kalinya diperkenalkan modul pendidikan tentang spiritualitas credit ujion yang dipkrakarsai Komisi PSE KWI dan disusun oleh Pastor Antonius Sumarwan, SJ. Modul berisi 8 pokok bahasan ini mengajak dan menyadarkan kembali para aktivis credit union agar jangan melupakan nilai-nilai, prinsip, dan hal-hal mendasar dalam mengelola credit union.

Lokakarya menyepakati sejumlah hal terkait dengan tata Kelola credit union dan akan ada pertemuan-pertemuan lanjutan baik di KWI (nasional), tingkat keuskupan maupun paroki. Seemua pihak sepakat untuk terus mempraktikkan tata Kelola CU yang standar dengan Kembali pada spirit mengapa CU didirikan seperti yang disampaikan pendiri CU Fredrich William Raiffeisen.

Dalampertemuan30 orang yang ingin membentuk CU Raiffeisen menyatakan:“…Saya tidak bisa memberikan keajaiban yang akan membebaskan Anda dari kemiskinan tanpa Upaya dari Anda  sendiri. Tapi ada satu cara yang saya tidak tahu apakah orang bisa mengikutinya.Yakni, jika semua bekerja sama untuk kebaikan bersama, maka mereka akan dapat mencapai tujuan itu: kebebasan dari keinginan. Kita harus mulai dari prinsip dasar dengan meningkatkan kesejahteraan fisik dan kesejahteraan spiritual, juga akan mendapatkan keuntungan. Dengan memberikan pinjaman kepada anggota yang membutuhkan dan yang rajin di komunitas mereka. Mereka akan memampukan diri untuk menikmati buah dari hasil usaha dan melakukan penghematan, dari pada bekerja untuk kepentingan rentenir. Dengan cara ini, mereka akan terbebas dari segala bentuk bantuan dari luar, yang sesaat memang mengurangi penderitaan mereka. Namun semua itu membuat mereka akan Kembali lagi dalam kemiskinan tetapi dengan konsekuensi yang lebih pahit”.

Semoga para aktivis credit union senantiasa menyadari, menginternalisasi dan melaksanakan semangat dasar Gerakan credit union Raiffeisen.***

 

Menganjan, Penebusan Dayak Pesaguan

Menganjan, Penebusan Dayak Pesaguan

Penulis: Edi Petebang, putra Dayak Pesaguan

“Kalau kalian mau punya keturunan, pergilah mengayau ke Arut, Kalimantan Tengah, ke arah matahari terbit. Potong kepala Patih Arut. Bawa kepalanya utuh dan segar sebagai ganti kalian untuk tumbal menganjan,”perintah Ukat Bebodah kepada Sesulor dan Sesileh. Memotong garong Peristiwa ini selalu dikenang masyarakat Dayak Pesaguan yang menghuni daerah aliran sungai Pesaguan dan anak-anaknya di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat dalam setiap ritual menganjan.

Menganjan adalah ritual agar arwah masuk ke serugo tujoh sebayan dalam (surga, bahasa Pesaguan). “Dalam ritual menganjan, masyarakat Dayak Pesaguan diingatkan akan pengorbanan jiwa raga orang Tuluyan yang selalu dijadikan tumbal dalam setiap ritual menganjan,”jelas Gemalo Nius, kepala adat kampung Serengkah Kanan (55 tahun).

Menganjan dilakukan pada saat kematian atau beberapa tahun kemudian. Jika saat kematian, maka menganjan dilakukan jika pembuatan sandung atau tambak telah selesai. Artinya butuh waktutiga atau empat hari. Tambak adalah bangunan bujur sangkar dengan ukiran motif di dindingnya yang diletakkan di pusara makam dan di bagian atasnya diberi atap.

Sandung tempat abu jenasah yang dibakar. Abu ini disimpan dalam tempayan kecil dan diletakkan di atas tiang belian berdiameter 20-30cm yang berukiran setinggi 3-4 meter. “Secara sederhana makna menganjan adalah ungkapankemenangan atas maut.Dengan menganjan dimaksudkan agar suasanaduka dalam masa berkabung diganti dengan suasanariang gembira.

Menganjan juga untuk melepaskansemacam ikatan yang disebut pantang pamali.Setelah menganjan orang yang berkabung boleh bersukaria, termasuk boleh menikah lagi,”jelas Nius yang memimpin seluruh prosesi menganjan.

Membersihkan “kepala” Menurut keyakinan orang Dayak Pesaguan arwahkeluarga yang meninggal tersebut dapat masuk kesebayantujoh serugo dalam,ke hujong ke penawaian, kesiu’ kependondaman, be’arai cetohu bayu,benasicetohu basi, beborascemenutu, bejolu cebekarang.

Artinya tempat dimana air tidak membusuk, nasi tidak pernah basi,beras tidak perlu menumbuk, dapat lauk-pauk tidak perluberburu; suatu tempat yang digambarkan sebagai tempatyang abadi, kebahagiaan kekal. Ritual menganjan yang terbaru terjadi di Kampung Serengkah Kanan, Kecamatan Tumbang Titi, Kabupaten Ketapang, 450 km Selatan Kota Pontianak tanggal 6-8 Juli 2012.

Warga mengambil buah jarau

Ada empat orang yang dikanjakan, yakni almarhum Gando Bakah Berandong Marsianus Silan, Salesta Ita, Petrus dan Dalmasius Itan. Silan adalah kepala adat kampung Serengkah Kanan selama sembilan tahun; sedangkan Ita, Petrus dan Itan adalah anaknya. Tuan rumah mengundang warga dari 9 kampung. Karena itulah, ribuan orang berkumpul di sana. Penulis mengikuti seluruh prosesi ritual ini.

Ritual inti menganjan dimulai dengan ritual memotong batang kayu garong. Sebanyak 20 orang wakil ansang (sebutan untuk tamu) memotong kayu garung yang dipasang melintang di tengahjalan di ujung kampong. Dentuman empat laras senapan lantak, letusan puluhan petasan, pekikan puluhan ansang menandai putusnya tiang pembatas ansang dan tuan rumah itu. Empat pasang penari datang menjemput ansangdan mengiringnya sampai ke tempat acara yang dinamakan tetarok.

Di sini para tamu dijamu dengan sirih pinang dan tuak, minuman beralkohol sekitar 25% yang terbuat dari beras ketan diberi ragi. Setelah para tamu (ansang) diterima di tetarok, dilaksanakan lagi sejumlah ritual menganjan. Sebelum tamu datang juga telah dilaksanakan serangkaian ritual. Ada 14 ritual yang dilaksanakan selama proses menganjan. Yakni (1). memberi makan tiang garong (2). membersihkan kepala kayau (3).pemberi makan roh-roh (4). dongeng asal-usul kanjan (5). penyerahan jarau (6). memotong garong (7). menyerahkan pelelawat (8).mengambil salib ke kuburan (9). memutus bulen (10). menebang jarau (11). mengembalikan salib ke kuburan (12). memotong kasau (13). bepalit parang beliung (14). piring beras.

Dari 14 prosesi ritual tersebut, yang paling menarik perhatian warga dan paling sakral adalah ritual menumang kepala, sangan sesulor sesileh, memotong garong dan memantang jarau. Menumang kepalaadalah membakar kepala di atas tungku tumang (tungku berkaki tiga). Jaman pengayauan dulu, yang dibakar kepala manusia hasil mengayau.

Meskipun orang Dayak Pesaguan tidak ada tradisi menga­yau, namun jika ada pengayau yang menyerang maka diadakan perlawanan untuk mem­bela diri. Kepala kayau merupakan simbol kemenangan. Kini karena tidak ada pengayauan lagi, maka yang dibakar buah kelapa hijau yang muda. Setelah ditumang, buah kelapa pengganti kepala itu diberi makan dengan seekor ayam, abu dingin, nasi dingin.

Selanjutnya buah kelapa itu diberi lobang, airnya dibuang diganti dengan tuak. Tuak di dalam batok kelapa ini diminum secara bergiliran kepada semua yang hadir. Selesai dipakai minum, kelapa muda ini dibung­kus dengan kain dari kulit kayu berwarna kuningdan dipegang sambil dibawa menari. Tarian ini disebut tari menimang kepala.

Tarian ini diiringi musik teranjak, yakni gamalan cepat dan bersemangat. Pengorbanan Orang Tuluyan Setelah menumang kepala, pemimpin ritual menceritakan dongeng sesulor sesileh. Di dalam dongeng inilah kita bisa mengetahui makna menganjan. Konon, dulu ada dua bersaudara bernama Sesulor dan Sesileh. Mereka adalah orang keturunan tuluyan. Orang tuluyan adalah kelompok dalam masyarakat Dayak Pesaguan yang ditakdirkan untuk dijadikan korban dalam setiap upacara menganjan. Mereka disiksa dengan tombak dan mandau, lalu dibunuh dan menjadi tumbal pada dasar tiang sandung atau tambak.

Keluarga besar almarhum berdoa di depan salib Untuk menghapus takdir ini, pada jaman UkotKebodah (pendiri kampung Serengkah), Sesulor dan Sesileh ini diminta mengayau kepala adat kampung Arut, Kalteng.

Konon kepala adat Arut ini sangat sakti dan bermuka tiga. Kepala itu harus utuh karena Ukot Kebodah mau melihat muka tiga tersebut. Dua bersaudara inipun setuju dan berhasil mengayau kepala adat Arut. Karena jarak Kalteng-Serengkah jauh, sekitar seminggu jalan hutan, agar tidak busuk, kepala itu dikuliti dan dikeringkan.

Sesampai di kampung Serengkah, keduanya disambut seluruh warga. Namun sayang, karena kepalanya tidak utuh, keduanya malah dituduh mencuri kepala orang dari pekuburan. Sesulor dan Sesileh tetap dikorbankan. Sebelum dibunuh mereka berpesan, “Jika di kaki kuburan tumbuh pohon keriato dan di kepala tumbuh pohon kumpang, berarti yang kami bawa memang benar,”ujar mereka.

Tiga hari setelah dibunuh dan dikubur, orang Pesaguan kaget bukan main karena di atas pusara Sesulor Sesileh tumbuh pohon keriata dan kumpang. Masyarakat Pesaguan pun akhirnya mengakui bahwa tengkorak kepala yanag dibawa Sesulor Sesileh adalah kepala adat Arut. Untuk mentaati perjanjian dengan Sesulor Sesileh, maka sejak itulah orang Pesaguan tidak lagi mengorbankan kepala manusia dalam ritual menganjan.

Sebagai gantinya adalah babi dan ayam. Menurut Gemalo Nius, sebagai wujud penghargaan orang Pesaguan kepada keturunan orang tuluyan, maka jika mereka meninggal akan disandung. Sandung adalah kuburan untuk abu jenasah. Jasad dibakar, lalu abunya disimpan dalam tempayan kecil dan diletakkan di atas tiang kayu belian setinggi 3-4 meter. Menurut Gemalo Nius, Orang Tuluyan ini bukanlah budak/kuli, tetapi orang yang memang dari awal ditakdirkan untuk dikorbankan jika ada ritual menganjan.

Untuk mengubah nasib, di beberapa kampung Orang Tuluyan ini melarikan diri/ pindah ke daerah lain. Misalnya, orang Tuluyan dari Kalteng yang lari dan membuka kampung Beringin, orang Tuluyan di Lemandau, Kalteng yang melarikan diri dan kini menjadi penduduk Kampung Petobang; orang Tuluyan dari Serengkah lari ke daerah Kengkubang (Jelayan-Natai Panjang), Batu Tajam, Pengatapan, Sungai Melayu dan sekitarnya.

Bedansai, Tarian masal menganjan

Itulah sebabnya di Jelayan, Natai Panjang, Batu Tajam, Pengatapan, Sungai Melayu dan kampung lainnya ada ritual menyandung orang mati. “Dengan ritual menganjan, orang Pesaguan diingatkan akan pengorbanan jiwa raga orang Tuluyan. Menganjan, terutama menyandung itu adalah semacam penebusan dosa-dosa orang Pesaguan kepada Orang Tuluyan,”jelas Nius. Memotong Garong, menebang jarau Untuk menyambut tamu maka diadakan ritual khusus yang disebut memotong garong.

Garong adalah nama jenis kayu yang batangnya ringan jika kering dan bisa dibuat rakit. Batang garong ini dipasang melintang di pintu gerbang khusus yang dibuat, sekitar 100 meter dari tempat acara. Sebelum masuk ke tempat acara, seluruh tamu disambut. Empat pasang penari datang menjemput ansang, sebutan bagi para tamu yang dijemput. Mula-mula seorang wakil keluarga yang menjemput akan bertanya kepada ansang tersebut. Bagian ini seru sekali karena antara tamu dan tuan rumah saling berbalasan dengan nada bicara seperti orang marah. Sambil bicara, tetamu disuguhi minum tuak dalam bambu yang disebut lumpang.

bedansai menganjan Garong kemudian dipotong oleh ansang secara bergantian. Ada sekitar 20 orang yang memotong garung. Yang memotong terakhir adalah domong adat ansang yang dituakan. Setelah garung putus, para tamu undangan diiringi oleh para penyambut berjalan menuju natar dan diterima di tetaruk.

Musik kanjan terus menerus ditabuh. Di sini para tamu dijamu dengan sirih pinang, minuman tuak dan makan. Ritual berikutnya adalah menebang jarau. Inilah acara yang ditunggu-tunggu anak-anak karena mereka akan diberi buah-buah jarau. Meski sebutannya menebang jarau, namun sesungguhnya tidak ditebang benaran.

Batang jarau dan buah-buahnya yang semula berdiri, akan dirobohkan setelah sebelumnya dibacakan mantra-mantra menebang jarau. Buahnya dikumpulkan—dan sebagian diberikan kepada anak-anak maupun orang yang dekatnya—tuak dalam tiang jarau akan diminumkan kepada tamu ataupun orang yang menebang jarau. Buah jarau ini kemudian akan dibagi. Ada dua jenis jarau, jarau pemalian (dari tuan rumah) dan jarau dari tamu. Jarau pemalian ini lebih besar dan lebih banyak buahnya. Di jarau pemalian, pada bagian bawahnya ada tempayan yang juga diisi tuak. Banyaknya jarau tergantung terkenal tidaknya orang yang dikanjankan; bisa mencapai ratusan batang.

Menebang jarau Menurut Gemalo Nius, adat jarau bukan merupakan adat asli Pesaguan tetapi dibeli dari Beringin. Orang Beringin membelinya secara adat dari Dayak Delang di Kalimantan Tengah karena jarak yang dekat dan hubungan yang baik antara orang Beringin dan OrangDelang. Adatnya adalah: sebuah tajau penuh tuak, piring delapan keping, babi seekor. “Selain jarau, adat yang dibeli dari Kalteng adalah menganjan di rumah.

Adat menganjan asli orang Pesaguan di tanah, tidak di rumah,”jelas Nius. Menganjan ditutup dengan adat pepiring beras.Yakni acara perpisahan dan pemberian tanda ucapan terima kasih atas semua ke­hadiran serta bantuan dari para tamu.“Harapannya rasa kepuasan dan kebahagian memenuhi kehidupan kami keluarga besar Bapak dan adik-adik yang dikanjanan. Kami puas dan bahagia karena telah menyelenggarakan acara penghormatan kepada Bapak dan adik-adik.

Kami percaya mereka sudah ber­bahagia di Sebayan Tujuh Serugo Dalam,”jelas Sunyan, anak almarhum Silan. Selama pelaksanaan 14 ritual menganjan tersebut musik gamalan kanjan tidak pernah berhenti. Puluhan orang, umumnya pemuda, secara bergiliran selama tiga hari siang dan malam menabuh gamalan. Ada tiga jenis gamalan, yakni gamalan biasa, gamalan kanjan dan gamalan tipaq. Dalam masyarakat Dayak umumnya, gamalan tipaq hanya dimainkan kalau ada kematian. Terancam punah Masyarakat Dayak Pesaguan mayoritas bermukim di pinggir Sungai Pesaguan dan anak-anak sungainya.

Berdasarkan buku Sujarni Aloy, dkk. “Mozaik Dayak: Keberagaman Subsuku Dan Bahasa Dayak Di Kalimantan Barat’, Institut Dayakologi (2008), ada 7 kelompok Pesaguan. YaituBatu Tajam, Kekura’, Kengkubang, Marau, Pesaguan Hulu, Pesaguan Kanan, Sepauhan. Mereka bermukim di wilayah 3 kecamatan, yakni Tumbang Titi, Sungai Melayu dan Jelai Hulu. Pelan tapi pasti ritual menganjan ini tergerus jaman dan makin langka.

Pemberkakatan salib secara Katolik

Selain karena biayanya mahal, juga bahan pendukung ritual ini semakin sulit dicari karena isi alam makin habis. Mahal karena dalam setiap pelaksanaan ritual menganjan yang besar, seperti menganjan Marsianus Silan (6-8/7/2012) menurut Sunyan, anak tertua almarhum, diperlukan 25 ekor babi, 200 ekor ayam, ratusan kilo beras, ratusan kilo sayur dan 500 liter tuak dan arak; belum biaya lainnya. Bahan yang diperlulan untuk ritual menganjan menurut Gemalo Nius terdiri dari puluhan jenis pohon buah-buahan, sayuran dan tanam tumbuh lainnya.

“Sebagian bahan itu kini makin sulit dicari, apalagi seperti bulu burung ruai—burung khas Kalimantan yang indah bulunya. Ini tidak terlepas dari makin menyempitnya areal perladangan dan hutan-hutan karena dibabat untuk areal perkebunan kelapa sawit, hutan tanaman industri dan pertambangan,”jelasnya. Menurut Nius, kebudayaan Pesaguan dipengaruhi budaya Jawa, agama Hindu, Budha, Islam dan Katolik.

Tahun 1918 misionaris Kapusin mulai mendirikan sekolah Katolik di Serengkah. Agama Katolik mempunyai peranan penting dalam perkembangan manusia dan kebudayaa Dayak Pesaguan era dulu dan kini. Hari-hari ini tantangan terbesar adalah gencar sekali rencana masuknya sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri (HTI) di kampung-kampung Dayak Pesaguan.

Ada yang menerima, ada yang dengan tegas menolak. Banjir bandang yang memutuskan jembatan di akibat kampung Beringin dan Batu Beransah dan merendam rumah, kebun, ternak warga diyakini warga akibat habisnya hutan di sekitar kampung Beringin (kampung paling udik Sungai Pesaguan) dan diganti dengan kebun sengon (HTI).***

Artikel ini dimuat di koran The Jakarta Post tangga 31 Oktober 2012.

 

Mgr.Kardinal Suharyo: Pandangan Gereja Katolik Terhadap Credit Union

Mgr.Kardinal Suharyo: Pandangan Gereja Katolik Terhadap Credit Union

Uskup Agung Jakarta Monsignor Ignatius Suharyo, mengatakan bahwa sikap Gereja Katolik sangat jelas dan tegas tentang credit union. Berikut isi presentasi yang disampaikan ketika menjadi pembicara dalam seminar nasional dalam rangka Rapat Anggota Tahunan (RAT) Pusat Koperasi Credit Union Indonesia (PUSKOPCUINA) hari Senin (20/5) di Hotel Golden Boutige, Jakarta,

Sikap resmi dari KWI (Konferensi Wali Gereja Indonesia) mendukung Gerakan CU. Gagasan penting pengembangan CU terdapat dalam Ajaran Sosial Gereja. CU adalah wujud nyata dari ASG(Ajaran Sosial Gereja). Ajarannya bagus, tetapi kadang tidak dilaksanakan.

Kerangka berpikir baru untuk manjadi dorongan kuat dalam mengembangkan CU sebagai berikut:

  1. Realitas sosial tahun 1769, munculnya era industri. Era ini dimulai dgn ditemukan mesin uap. Industrialisasi menyebabkan terjadinya urbanisasi, sistem ekonomi berubah. Sekularisasi pun tumbuh. Manusia makin sadar akan kemampuannya. Merasa bisa melakukan segala-galanya. Bisa seolah-olah sepeeti Tuhan. Masyarakat yg dulu percaya Tuhan, menjadi berubah. Manjadi kurang percaya kepada Tuhan. Bisa ciptakan hujan, dll.

Masalah-masalah bisa mulai muncul.  Masyarakat jadi hancur, anak-anak terlantar, Perempuan diperlakukan secara tak adil, dll. Menghadapi situasi itu muncul tarekat-tarekat religius. Mereka mengatasi atau menangani berbagai persoalan melalui tindakan-tindakan karitatif.

  1. Tahun 1891.

Kemudian muncul kesadaran baru yang tidak cukup hanya dengan Belaskasihan saja. Cara baru dengan adanya ASG.  Dokumen pertama dalam ASG adalah Rerum Novarum. Artinya Hal-Hal Baru. Mengangkat masalah di seputaran pabrik, tambang, dll. Adanya kesenjangan antara pemilik pabrik dan buruh. Buruh hanya dianggap sebagai salah satu unsur dlm produksi. Belum dihargai sebagai manusia yang bermartabat. (Awal abad 20, Rerun Novarum sudah sampai di Bantul, Pengusaha swasta, Pabrik Gula, Karyawan-karyawannya diberi saham). Ada keberpihakan dan penghormatan terhadap Martabat Manusia.

  1. Dokumen terakhir ASG, Laudato si oleh Paus Fransiskus (Agar manusia melestarikan Bumi

sebagai Rumah Bersama).

  1. KAJ (Keuskupan Agung Jakarta). Sejak 2022-2026 : mengajak umat mencari jalan-jalan baru mewujudkan ASG. CU adalah bagian dari perwujudan ASG. Perhatian pada pemberdayaan masyarakat akar rumput.

Pokok-pokok ASG ada 5 :

1) Hormat terhadap martabat manusia. Janganlah martabat manusia direndahkan oleh Kemiskinan atau Keserakahan.

2) Kebaikan/kesejahteraan bersama : Kita berjuang mewujudkan tanggung jawab bersama-sama. Negara tidak mampu menjalankan tugasnya sendiri.

3) Solidaritas : Kita sebagai warga masyarakat, terlibat karena panggilan iman utk mengembangkan CU atau masyarakat. (Panggilan Iman, bukan Agama).  Terinspirasi oleh iman. Iman katolik, islam, Kristen, Hindu, dll. Inspirasi iman bukan Agama. Tubuh, jiwa, pikiran, bersatu untuk membangun  kesejahteraan. Inspirasi yang berkaitan dgn Roh manusia. Iman yg menggerakan, Spirit, Roh.

4) Memberi perhatian kepada saudara/i kita yg kurang beruntung. Kita sama-sama dgn saudara/i kita berjuang bersama. Di negara manapun terdapat orang miskin, terpinggirkan. Semua manusia terpanggil untuk memberi perhatian terhadap mereka.

5) Relasi manusia dengan Alam. Kesejahteraan ditentukan dlm Hubungan antara Manusia dengan alam. Manusia melestarikan alam, alam memberi kehidupan kepada manusia.

Solidaritas :

* Bukanlah perasaan yg tdk jelas atau sedih yg dangkal atau belaskasih saja tetapi ketetapan hati yg mantap dan teguh utk membaktikan diri kpd kesejahteraan umum, bersama-sama, oleh semua org, oleh setiap individu.

* Nilai dibalik gerakan CU adalah Solidaritas. Butuh hati yg mantap dan teguh karena banyak musuh solidaritas. Yakni persaingan.

* Pendidikan di CU penting agar mengetahui secara pasti ttg CU.

* Banyak pasar bebas, banyak persaingan. Ada juga egoisme, dan keserakahan sebagai berhala baru dengan godaan yg besar.

Kesejahteraan Umum :

* Adalah keseluruhan konsidi hidup kemasyarakatan. Baik klpk dan individu berjuang mencapai kesempurnaan hidup mereka.

* Ada proses hominisasi, di mana kesejahteraan yang adalah kondisi yg mutlak diperlukan manusia sering berhadapan dengan adanya manusia yang tidak manusiawi.

* Proses Hominisasi menjadi Humanisasi, menjadikan manusia semakin manusiawi. Kondisi ini harus diupayakan.

Dibutuhkan fasilitas yg vital : Pendidikan, Kesehatan, Hukum yg jelas, tegas agar martabat manusia diangkat dan dijunjung tinggi.

* Di sini CU bergerak dalam upaya membuat manusia semakin manusiawi dan sempurna.

Uang bukan tujuan terakhir, tetap dgn uang martabat manusia harus semakin dihormati.

Lewat aktivitas praktis di CU, martabat manusia harus semakin dihormati.

Solidaritas dan Partisipasi: ada dua aspek dalam partisipasi. Pertama, ambil  bagian dari kesejahteraan umum. Tujuannya ambil manfaat untuk bertumbuh sampai tiba pada kesempurnaan. Tantangan uang sangat besar..CU punya peran penting terhadap anggota agar anggota mengambil maanfaatnya demi pengembangan hidup. Akhir-akhir ini semua org ingin pamer. Banyak org ingin menjadi lebih unggul dari org lain. Maka melalui pendidikan org belajar tentang prinsip kesejahteraan umum. Kedua, ambil bagian dari manfaat CU dan ikut membangun kesejahteraan umum.

Kesimpulan.

Pelaksanaan solidaritas dilaksanakan dengan baik kalau warga masyarakat menganggap sesamanya sebagai pribadi yang baik. Kalau kita tekun dalam KEBAIKAN dan KEBENARAN maka kita akan melakukan yang baik secara berKELANJUTAN.***