Salah satu kunci keberhasilan sebuah lembaga, baik bisnis maupun organisasi nirlaba, seperti credit union, adalah figur pemimpin dan kepemimpinannya. Berbicara sebagai narasumber dalam seminar nasional bertema “leadership” dalam rangkaian Rapat Anggota Tahunan (RAT) PUSKOPCUINA di Batam (23/4) Br. Dr. Martinus Handoko, FIC menekankan pentingnya pemimpinan ber-JAKET.

Roh credit union adalah “people helping people”: orang menolong orang alias saling menolong. CU adalah gerakan pemberdayaan. CU bukan sekedar gerakan bisnisy ang mencari keuntungan materiil. CU adalah gerakan pemberdayaan masyarakat, meningkatkan kualitas dan kesejahteraan hidup manusia, dengan azas solidaritas. Dengan istilah lain, CU adalah karya sosial. Agar CU terus bertumbuh, maka CU perlu pemimpin yang berorientasi pada pemberdayaan anggota/masyarakat, bukan pada kepentingan pribadi dan kekuasaan.

Servant leadership

Menurut Bruder Martin, karena credit union adalah karya social, maka perlu kepemimpinan yang melayani (servant leadership). Servant leadership imenekankan bahwa tugas pokok pemimpin adalah melayani anggota. Fokus pada kesejahteraan dan pertumbuhan anggota. Berbedadengan kepemimpinan tradisional atau “command and control leadership”. Dalam ajaran iman Katolik ini sejalan dengan Tuhan Yesus Sang Teladan,Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Mt. 20:28).

Servant leadership seperti piramida yang menempatkan pemimpin di puncak, di bawahnya staf dan pelanggan/masyarakat. Kebalikannya servant leadership yang menempatkan pelanggan sebagai yang utama, seperti terlihat dalam model berikut.

Menurut Bruder Martin, ada empat keuntungan Servant Leadership. Pertama, membangun kepercayaan dan loyalitas anggota. Kedua, menumbuhkan keterlibatan anggota. Ketiga, mendorong kolaborasi dan inovasi. Keempat, keberhasilan organisasi yang berkelanjutan.

Principles Of Servant Leadership

Terdapat 10 prinsip servant leadership, yakni listening, empathy, awareness, persuasion, healing, conceptualization, forsight, community building stewardship, commitment to the growth of the people.

Listening (mendengarkan): pemimpin mendengarkan + menghargai masukan, gagasan, usulan, aspirasi dari anggota. Pemimpin melibatkan dan minta pendapat staf, pengurus, anggota, sebelum mengambil keputusan penting. Pemimpin tidak meremehkan, mencela, menghina masukan/pendapat/usulan dari anggota.

Empathy + Awareness + Persuasion: pemimpin berusaha memahami pendapat, perasaan, cara pandang anggota. Memiliki kesadaran diri dan kepekaan terhadap dinamika organisasi serta dampak keputusan. Meyakinkan dan memengaruhi anggota melalui argumentasi yang sehat, bukan lewat paksaan yang otoriter.

Healing (menyembuhkan): Pemimpin menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pemulihan emosi negatif dan tekanan psikologis anggota. Pemimpin menggunakan kata-kata yang menyejukkan dan memotivasi orang untuk tetap bersemangat, tidak mudah putus asa, tidak mudah menyerah pada tantangan dan kesulitan (encouraging communication).

Conceptualisation + forsight + community building: mampu melihat gambaran besar, merancang visi jangka panjang, dan menghubungkannya dengan tindakan nyata. Mengantisipasi konsekuensi jangka dekat dan jangka jauh dari keputusan saat ini. Menciptakan rasa kebersamaan, solidaritas, dan tujuan kolektif dalam organisasi.

Stewardship +commitment to the growth of the people: mengurus dan melayani secara bertanggung jawab untuk penjaga kepercayaan organisasi dan masyarakat. Memberikan kesempatan tumbuh dan berkembang dengan cara belajar, mentoring, dan pengembangan karier bagi anggota tim.

Bagaimana praktik servant leadership? Yakni memimpin dengan keteladanan, layani anggota dengan penuh kasih. Latih anggota untuk turut mengambil keputusan bersama. Dorong anggota untuk mengembangkan diri secara personal dan professional. Bangun budaya saling hormat dan bisa dipercaya.

Non-violent Communication (komunikasi tanpa kekerasan)

Pemimpin yang mempraktikkan servant leadership menggunakan komunikasi tanpa kekerasan. Mengapa perlu komunikasi tanpa kekerasan? Umumnya konflik disebabkan karena mis-komunikasi/salah paham. Komunikasi tradisional sering menggunakan kata-kata yang keras, bahkan cenderung “kasar”, menekan/mengancam, yang membuat orang merasa bersalah, takut, malu, tersinggung, direndahkan, dll.  Komunikasi tanpa kekerasan berusaha untuk menghargai dan memahami orang lain.

Ada empat prinsip komunikasi tanpa kekerasan. Yakni ungkapkan pikiran/perasaan secara jujur, tanpa mencela, menyalahkan, mengadili. Kedua, mendengarkan secara empatik dengan pikiran dan hati terbuka. Ketiga, focus pada masalah, tidak melebar kemana-mana yang tidak relevan. Keempat, komunikasi menggunakan kata-kata/diksi /gaya yang sopan, nada/tempo suara dan gerak tubuh yang sesuai.

Komunikasi tanpa kekerasan mempunyai tujuh manfaat. Yakni (1). mengurangi misunderstandings and conflicts. (2). Membangun trust and cooperation. (3). Menyuburkan empathy and compassion. (4). Memperkuat personal and professional relationships. (5). Membangun budaya mendengarkan. (6). Meciptakan “win–win solutions”. (7). Membangun budaya hormat pada orang lain.

Tantangan

Ada tiga tantangan penerapan servant leadership. Pertama, tantangan budaya hirarkis: di banyak organisasi gaya kepemimpinan masih cenderung otoriter. Menggeser ke servant leadership membutuhkan perubahan budaya yang signifikan. Kedua, kesalahpahaman: ada risiko pemimpin dianggap “lemah” karena lebih mendengarkan daripada memerintah. Padahal, servant leadership justru menuntut kekuatan moral dan integritas tinggi. Ketiga, konsistensi: prinsip ini harus dijalankan secara konsisten; jika hanya menjadi slogan, maka akan kehilangan kredibilitas.

Pemimpin JAKET

Pemimpin yang berintegritas adalah pemimpin yang ber-JAKET. Yakni Jujur : tidak ada manipulasi, konflik kepentingan, atau penyalah gunan wewenang. Akuntabel: pemimpin bertanggung jawab atas penggunaan dana, program, dan hasil yang dicapai. Konsisten : kesesuaian antara kata, aturan dan perbuatan. Etika: perilaku dan tutur-kata yang sopan/bermoral. Transparan: Setiap kebijakan dan keputusan harus terbuka, dapat dipertanggungjawabkan kepada anggota.

“Kita membutuhkan banyak pemimpin yang visioner, yang mampu merumuskan visi jangka Panjang. Visi harus relevan dengan kebutuhan anggota, misalnya peningkatan literasi keuangan, pemberdayaan ekonomi lokal, atau penguatan solidaritas komunitas,”papar Br. Martin.

Pemimpin visioner mampu menggerakkan anggota dengan ide-ide besar yang memberi harapan. Pemimpin visioner adaptif terhadap perubahan: mengantisipasi tantangan digitalisasi, regulasi keuangan, dan dinamika sosial. Pemimpin visioner membangun budaya organisasi: memiliki nilai inti (core values) yang jelas sebagai pedoman perilaku kolektif. ***